Latest Post
Tampilkan postingan dengan label fikiranku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fikiranku. Tampilkan semua postingan

Donasi Klik Islam Kaffah Indonesia

Written By Pelatihan blog on Jumat, 27 April 2012 | 19.43


Terimakasih telah menjadi donatur tetap Islam Kaffah Indonesia, 1 kali klik nominalnya tidak sampai 1 sen, jika 1000 kali klik maka nilainya hanya sekitar 3 sen, untuk mendapatkan 1 dolar maka membutuhkan ribuan klik, namun klik ini hanya bisa sekali dalam sehari bagi satu IP. Kunjungan anda sangat berarti bagi kami untuk kebelangsungan dakwah website ini.


Kami bekerja sama dengan Adf.ly dan ini baru dimulai semenjak dikeluarkannya artikel ini 28 Mei 2012.


Semoga Allah Swt membalas kebaikan saudara-saudara sekalian... Aaamiiin.


Ttd. Admin. Muhammad Syafi'i Tampubolon

Apakah Rasulullah mengerjakan shalat dhuha?

Written By Pelatihan blog on Kamis, 01 Maret 2012 | 06.33

بسم الله الرحمن الرحيم
وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى. وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الأُولَى. وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى. وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى. وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى. فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ. وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

Terjemah: Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). Qs: 93.

Makna kalimat:
تَقْهَرْ
عَائِلا
آوَى
قَلَىٰ
وَدَّعَكَ
سَجَىٰ
ٱلضُّحَىٰ

1-                   ٱلضُّحَىٰ waktu menjelang tengah hari (kurang lebih pukul 10.00): kira-kira pukul 10.00 ia melakukan shalat[1].
2-                   سَجَىٰ (غطى) Meliputi. Ada ungkapan Rasulullah mengatakan tentang kisah nabi Musa dan Khaidir dengan kalimat “فوجد رجلا مسجى”.[2]
3-                   وَدَّعَكَ / تركك “Meninggalkanmu”
4-                   قَلَىٰ / أبغض “Benci” Adapun makna firman Allah: وَمَا قَلَى adalah: Allah tidak akan pernah membenci engkau wahai Muhammad semenjak Allah mencintaimu.
5-                   آوَى Rasulullah mengatakan: Aku dalam pemeliharaan pamanku Abi Thalib[3].
6-                   عَائِلا / فقيرا “Fakir”
7-                   تَقْهَرْ “Buruk dalam berinteraksi”[4]. Ada juga yang membacanya dengan: تكهر [5].

Hadits-hadits yang menyeru untuk melaksanakan Shalat Dhuha.

عن أبي ذررضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال :
(يُصبح على كل سُلّامى من أحدكم صدقة ، فكل تسبيحة صدقة، و كل تحميدة صدقة ، و كل تهليلة صدقة، و كل تكبيرة صدقة ، و نهي عن المنكر صدقة ، و يُجزي من ذلك ركعتان يركعُهُما من الضحى).

Terjemahnya: Dari Abi Dzar Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berkata: Yang akan menjadikan semua persendian salah satu diantara kamu itu bersinar adalah "sedekah", maka semua tasbih, pujian, tahlil, takbir, melarang orang berbuat kemungkaran adalah "sedekah", dua rakaat sholat dhuha itu adalah bahagian dari sedekah. Hr. Imam Muslim.[6] 

روى الإمام أحمد من حديث بريدة رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: في الإنسان ثلاثمائة وستون مفصلا فعليه أن يتصدق عن كل مفصل منه بصدقه, قالوا: ومن يطيق ذلك يا نبي الله؟ قال: النخامة في المسجد تدفنها والشىء تنحيه عن الطريق فإن لم تجد فركعتا الضحى تجزئك.
Terjemahnya: Diriwayatkan oleh imam Ahmad dari haditsnya Baridah Radiyallahu Anhu. Baridah berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berkata: Pada setiap diri manusia itu ada 360 persendian, maka bagi setiap persendian itu ada sedekahnya, para sahabat bertanya: Maka siapakah yang menanggung semua sedekah itu wahai Rasulullah?. Rasulullah menjawab: Membersihkan dahak yang terdapat dimasjid dan membersihkan hal-hal yang mengganggu dijalan, maka jika kamu tidak mendapati hal sedemikian itu, maka shalat dhuha dua rakaat cukup bagimu.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ ، عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ الْغَطَفَانِيِّ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : " يَا ابْنَ آدَمَ ، لَا تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ ، أَكْفِكَ آخِرَهُ .
Terjemahnya: Abdurrahman bin Mahdy dan Mu’awiyah (Maksudnya) Ibnu Shalih bercerita kepada kami, dari Abi Al Zahiriyah, dari Katsir bin Murrah, dari Na’im bin Hamar Al Ghatthaniy, bahwasanya Hamar Al Ghatthaniy telah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: Wahai bani Adam, janganlah engkau lalai dari mengerjakan shalat empat rakaat diawal siang hari, aku akan mencukupkan engkau diakhirnya.

Ada orang bertanya: Apakah  Rasulullah mengerjakan shalat dhuha?

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam selalu mengerjakan Shalat Dhuha.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Mu’az, bahwa Mu’az bertanya kepada Sayyidah ‘Aisyah tentang jumlah bilangan Shalat Dhuha yang dikerjakan oleh rasulullah. ‘Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan menambahnya jika ia menghendaki lebih dari empat rakaat[7].

Apakah boleh shalat dhuha berjama’ah?

Shalat dhuha adakalanya boleh dilakukan berjama’ah dan tidak memperbanyak rakaat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: Dari ‘Utban bin Malik bahwa Rasulullah takbir hendak melaksanakan shalat dhuha dan kami berbaris dibelakangnya, Rasulullah shalat sebanyak dua rakaat kemudian ia salam dan kami pun salam[8].

Allahu ‘Alam.
Ditulis Oleh: Muhammad Syafi'i Tampubolon

[1] Kamus Bahasa Indonesia
[2] Tafsir Juz Amma Jilid 1 karangan Abi Abdillah Musthafa ibnu Al Adawy halaman: 382 cetakan Maktabah Makkah.
[3] Maani Al Quran Jilid 3 halaman 274 Karangan Aby Zakariya Yahya ibnu Ziyad Al Farra’ Cetakan Maktabah Usrah.
[4] Ibid 2
[5] Ibid 3
[6] Ibid 2
[7] Ibid 2
[8] Ibid 2

Alamat download buku lengkap turos

Written By Pelatihan blog on Selasa, 14 Februari 2012 | 04.55

Mungkin ada gunanya juga link ini, sebab kita bisa menemukan koleksi-koleksi buku arab. sengaja ini saya buat karna mungkin suatu saat nanti saya juga membutuhkannya. Atau minimal orang lain bisa mendapatkan manfaat dari situs ini.

1- KT-B.c o m
2-
Muhammad Syafii Tampubolon | Buat Lencana Anda

Muslim, Ikhlas dan Adil

Written By Pelatihan blog on Minggu, 12 Februari 2012 | 23.57

Muslim dan Ikhlas[1]

Sudah sepantasnya seseorang itu memilih agama islam untuk diri dan keluarganya. Ikhlas adalah sebuah pilihan bagi diri seorang muslim, memilih keikhlasan adalah sebuah pilihan yang baik. Ikhlas itu dapat dilakukan dimana saja, baik ketika sendiri maupun dihadapan orang ramai tanpa harus menguras energi. Ikhlas tidak harus di realisasikan dihadapan orang muslim dan mu’min saja, walaupun dihadapan orang non muslim ikhlas itu tetap dilakukan.

Ikhlas adalah bahagian penting dalam agama islam dan semua perbuatan dari segala aspek kehidupan manusia. Orang tidak tidak akan mampu beragama islam melainkan karena ikhlas menerima islam dan peraturannya walaupun tidak semaksimal mungkin dalam hal melakukan semua perintah islam, sebab sipemilik agama Islam itu adalah Allah. Tentang sedemikian itu Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًۭا.
Terjemahannya: Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (QS: 4: 146)

Dengan sendirinya seorang muslim itu akan mengerjakan semua perintah Allah yang termaktub didalam Al Quran dan sunnah Rasulullah. Dengan begitu maka jadilah seseorang itu seperti sebutan Allah di dalam Al Quran:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ.
Terjemahannya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, (QS: 98: 5)

Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw dengan ungkapan Allah Swt:

قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًۭا لَّهُ ٱلدِّينَ.
Terjemahannya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS: 39: 11)

Seorang muslim tentunya sudah mengetahui bahwa ikhlas itu hanya dia dan Allah saja yang tahu. Sebagaimana dikatakan oleh orang sholeh: Seorang raja tidak akan mampu untuk menuliskannya, Syetan tidak akan mampu merusaknya dan manusia tidak akan mampu untuk menunjukkannya.

Manakala amal ibadah seseorang itu jauh dari sifat riya dan mencari reputasi maka ia diterima. Oleh karena itu Rasulullah bersabda didalam hadits qudsi: Allah swt berfirman: Aku adalah yang paling kaya dari semua sekutumu, barang siapa beribadah kepadaku dengan sekutu yang lain, maka sesungguhnya yang menciptakan sekutunya itu adalah aku, sedangkan amal ibadahnya itu bagi sekutunya. (Hr. Ibn Majah)

Berkata Abi Sa’id bin bin abi Fadlah, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Manakala Allah telah mengumpulkan orang-orang pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi keberadaannya maka diserulah orang-orang dan berkata: Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah maka mintalah balasan ibadahmu kepadanya. Sesungguhnya Allah itu maha kaya dari sekutumu. (Hr. Tarmizi, Ibn Hibban dan Baihaqi)

Didalam sebuah hadits dikatakan: Allah tidak melihat bentuk jasmanimu dan tidak pula melihat rupamu, dan akan tetapi Dia melihat kepada hatimu. (Hr. Imam Muslim)

Tentang hal ini Rasulullah juga mengatakan: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya) (Hr. Imam Bukhori dan Muslim)

Seorang muslim akan mengintropeksi dirinya dengan mengingat perkataan Rasulullah, dari Abu Hurairah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah berkata: Pada hari kiamat nanti orang yang pertama diadili adalah orang yang mati syahid, maka ia pun dihadapkan dan dibeberkan semua amal ibadahnya selama didunia, maka Allah bertanya: kenapa engkau mengerjakan itu?. Orang itu menjawab: Aku membunuh karena Engkau. Setelah ia menjawab Allah berkata: Engkau bohong, engkau mau berperang agar dikatakan orang pemberani. Maka Allah perintahkan agar ia diseret mukanya keneraka. Kemudian dihadapkan orang yang membaca Al Quran dan menuntut ilmu dan mengamalkan ilmunya. Maka dipaparkan semua amal ibadahnya, maka Allah bertanya kepadanya: Kenapa engkau mengerjakan itu?. Orang itu menjawab: Aku belajar dan mengajar serta membaca Al Quran karena Engkau. Allah berkata: Engkau bohong, engkau melakukan semua itu agar dikatakan orang alim dan orang yang membaca Al Quran. Maka Allah perintahkan agar mukanya diseret keneraka. Kemudian dihadapkan orang yang telah diberi kelapangan dan menafkahkan sebahagian hartanya. Maka dipaparkanlah semua perbuatannya. Allah bertanya kepada orang itu: Kenapa engkau lakukan itu: Orang itu menjawab: Tidaklah aku infakkan hartaku kecuali karena Engkau. Allah berkata: Engkau bohong, engkau melakukan semua itu agar dikatakan orang yang dermawan. Maka Allah perintahkan agar wajahnya diseret keneraka. (Hr. Muslim, Nasa’i dan Tarmizi)

Ketika seorang muslim membaca dan mengingat hadits di atas, maka ia akan menjadi orang yang ikhlas dalam segala amal dan perbuatannya, lain halnya jika ia jadikan Syetan menjadi penolongnya, maka pahala itu akan haram baginya.

Muslim dan Keadilan

Seseorang ketika hatinya lapang (Tidak marah) dan sempit (Marah) sungguh berat baginya untuk berbuat adil. Sebab keadaan itu adalah salah satu faktor untuk mendukung seseorang dalam hal melakukan sebuah keseimbangan. Mungkin sulit untuk melapangkan hati ketika marah. Sementara keseimbangan itu sangat dibutuhkan dalam segala aspek. Sedangkan suasana hati hanya meliputi dua hal itu saja. Yang menjadikan dua hal itu terjadi adalah sebab. Sebab yang membuat hati itu lapang sangat banyak, begitu juga halnya sebab yang menjadikan hati menjadi sempit.

Seorang muslim sudah sepantasnya bisa menyeimbangkan dirinya ketika keadaan hatinya lapang dan sempit. Sebab ia mengetahui sisi negativ yang akan ia terima, baik di dunia dan akhirat nanti.

Seseorang itu bisa saja terjerumus kepada kezaliman ketika hatinya lapang maupun ketika hatinya sempit. Contohnya seseorang itu memakan harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan oleh islam. Sipelaku merasa senang dan lapang dadanya karena keuntungan, disisi lain sikorban merasa dizalimi.

Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya: Apakah kalian mengetahui apa itu Muflis?. Para sahabat menjawab: Muflis itu adalah orang yang tidak memiliki uang dan tidak juga memiliki sesuatu yang menyenangkan. Rasulullah berkata: Muflis itu adalah: Ketika seseorang dihadapkan pada hari kiamat nanti dengan segala amal ibadahnya, baik itu sholat, puasa dan zakatnya, maka pada saat itu ia berhadapan dengan orang yang pernah dicaci, difitnah, dimakan hartanya dengan cara yang batil, dibunuh dan dipukulnya, maka semua hasil ibadahnya itu diberikan kepada mereka semua, sehingga ia tidak memiliki sedikitpun hasil daripada amal ibadahnya sehingga ia dilemparkan keneraka. (Hr. Imam Muslim)

Rasulullah juga bersabda: Waspadalah kamu dari doa orang-orang yang terzalimi, sebab tidak ada hijab antara dia dan Allah. (Hr. Muttafaqun A’laih)

Rasulullah memerintahkan kita agar menolong orang yang menzalimi dan yang terzalimi, sebagaimana sabdanya: Tolonglah saudaramu yang telah berbuat zalim dan yang dizalimi, maka seseorang berkata: ya Rasulullah, aku hanya akan menolong orang yang dizalimi dan bagaimana aku akan menolong orang yang zalim?. Rasulullah menjawab perkataan orang itu dengan: Cegahlah ia untuk berbuat zalim, itu adalah cara untuk menolong orang yang berbuat zalim. (Hr. Bukhori)

Seorang muslim harus mewanti-wanti dirinya agar tidak menzalimi sesamanya, baik ketika marah ataupun tidak, agar ia tidak termasuk dalam firman Allah:

إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
Terjemahannya: Sesungguhnya orang-orang yang lalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14: 22)

Rasulullah berkata: Sesungguhnya Allah akan menggenggam orang yang zalim, ketika Ia mengambilnya, maka tidak akan bisa lepas lagi. (Hr. Muttafaqun A’laih)

Allah berfirman: وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلْقُرَىٰ وَهِىَ ظَٰلِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُۥٓ أَلِيمٌۭ شَدِيدٌ.
Terjemahnya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (QS. 11: 102)

Seorang muslim tidak akan berbuat kezaliman walaupun ia mampu untuk melakukannya, sebab ia mengetahui bahwa mata orang yang dizaliminya tidak akan bisa tidur lelap, walaupun yang menzalimi itu bisa tidur dengan tenang, sedangkan Allah tidak pernah tidur. Seorang muslim akan selalu mengingat firman Allah:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
Terjemahannya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. 16: 90)

Jika seorang muslim itu dipercayakan sebagai seorang hakim, ia harus berlaku seadil-adilnya ketika menetapkan sebuah hukuman bagi orang-orang yang dihakiminya. Sebab keadilan harus diletakkan pada tempatnya. Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ.
Terjemahannya: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS. 5:8)


  





[1] Isi semua tulisan ini ada yang diambil dari buku wasiat rasul, sisanya tulisan penulis (Batak medan).


Muhammad Syafii Tampubolon | Buat Lencana Anda

Pemikiran Mu'tazilah

Written By Pelatihan blog on Kamis, 26 Januari 2012 | 02.44

PEMIKIRAN MU’TAZILAH
Disusun oleh :
Irma Qurotu A’yun
BAB I
PENDAHULUAN
 I.            Latar Belakang
Makalah yang saya presentasikan sekarang ini, hanyalah usaha kecil dan ala kadarnya untuk mencoba memaparkan kembali satu episode sejarah kelam umat islam. Dan usaha kecil ini pun di benturkan dengan berbagai keterbatasan, sehingga banyak mengalami kesulitan. Dan kesulitan ini pun saya rasakan ketika ingin menganalisa sekaligus mengkritisi fenomena yang ada sebagai imbas dari “sejarah” tersebut.
Pemikiran mu’tazilah adalah tema yang di angkat kali ini, bagaimana peranan ideologi rasinalitas ini dalam pentas sejarah perjalanan umat islam, sejauh mana peranan ideologi dalam menghantarkan umat islam ke dalam sejarah yang kelam, apa bahaya yang di usungnya, dan bagaimana peranan kita sebagai umat islam yang berkomitmen secara totalitas terhadap petunjuk Allah yang terlembagagakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah menyikapi, mengkritik, sekaligus menggugat ideologi rasional tersebut.
Kiranya makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk memaparkan semuanya, namun mudah-mudahan sedikit memberi pijakan kepada umat islam untuk terus menerus memperbaiki sejarah dengan mengambil “Ibrah” dari “Kecelakaan Sejarah” yang terjadi dalam rentetan sejarah umat islam.

    II.            Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian mu’tazilah?
b.      Apa saja pokok-pokok ajaran mu’tazilah?
c.       Siapa tokoh-tokoh aliran mu’tazilah?

 III.            Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :
a.       Untuk memnuhi tugas pada mata kuliah teologi islam.
b.      Untuk mengetahui pengertian mu’tazilah dan akar produk pemikiran mu’tazilah.

 IV.            Manfaat Penulisan
a.       Agar pembaca mengetahui tentang seluk beluk pemikiran mu’tazilah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Munculnya Golongan atau Kelompok Mu’tazilah
Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha' berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).[1]
Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk ada dua golongan.[2] Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari.[3] Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi.[4]

B.     Pengertian Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah firqoh Islamiyyah (aliran dalam Islam) yang muncul pada masa  akhir dinasti umayyah dan tumbuh pesat pada masa dinasti abbasiyyah. Mereka  berpegang pada kekuatan rasionalitas dalam memahami aqidah Islam (al-Aq‎‎îdah al-Islamiyyah), hal itu lebih sebagai bukti dari pengaruh berbagai “filsafat-filsafat import” yang menyimpang dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Filsafat-filsafat import itu di antaranya adalah filsafat Yunani dalam diskursus dzat dan sifat, filasafat Hindu, dan aqidah Yahudi dan Nashrani.[5]
Sedangkan sebagian ulama, mendefinisikannya sebagai satu kelompok dari qadariyah yang berbeda pendapat dengan umat Islam dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang dipimpin oleh Waashil bin Atho’ dan Amr bin Ubaid pada zaman Al Hasan Al Bashry.
Kalau kita melihat kepada definisi secara etimologi dan terminologi, didapatkan adanya hubungan yang sangat erat dan kuat, karena kelompok ini berjalan menyelisihi jalannya umat Islam, khususnya Ahli Sunnah, dan bersendiri dengan konsep akalnya yang khusus, sehingga Akhirnya membuat mereka menjadi lemah, tersembunyi dan terputus.

C.    Pokok- pokok Ajaran Mu’tazilah
Aliran mu’tazilah memiliki lima ajaran pokok yaitu :[6]
Ø  Tauhid (keesaan Allah SWT)
·         Tidak mengakui sifat-sifat Allah SWT, menurutnya apa yang di katakan sifat adalah tak lain dari dzat-Nya sendiri ;
·         Al Qur’an menurutnya adalah makhluk ;
·         Allah di akhirat kelak tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia, karena Allah tidak akan terjangkau oleh mata.[7]


Ø  Al’adl (keadilan Allah SWT)
Semua orang percaya akan keadilan Allah, tetapi aliran mu’tazilah memperdalam arti keadilan serta menentukan batas-batasnya,sehingga menimbulkan beberapa persoalan. Dasar keadilan yang di yakini oleh mereka ialah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Dalam menafsirkan keadilan tersebut mereka mengatakan sebagai berikut : “ Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan kekuasaan yang diciptakan-Nya terhadap diri manusia. Ia hanya memerintahkan apa yang dikehendaki-Nya. Ia hanya menguasai kebaikan-kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak ada campur tangan dalam keburukan yang dilarang-Nya.
Aliran ini berpendapat bahwa Allah akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan apa yang diperbuat.[8]

Ø  Al wa’d wa al-wa’id (janji dan ancaman)
Aliran mu’tazilah berpendapat, bahwa Allah SWT wajib memnuhi dan tidak boleh mengingkari janji-Nya. Menurut mereka, hamba Tuhan yang berbuat baik pasti mendapat pahala dan masuk surga, sebab Tuhan telah berjanji akan memberikan pahala kepada orang-orang yang berbuat baik. Tuhan tidak akan mengingkari janji-Nya. Tuhan juga harus menyiksa orang-orang yang tidak taat dan berbuat dosa sebab Tuhan telah mengancam mereka dengan neraka. Ajaran ini sebenarnya sangat terkait dengan ajaran keadilan Tuhan karena salah satu bentuk keadilan Tuhan terhadap hamba-Nya adalah mebalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejahatan dengan siksa.[9]

Ø  Al manzilatu bainal manzilatain (posisi diantara dua posisi)
Ajaran inilah yang menjadi faktor utama munculnya kaum mu’tazilah. Washil bin Atha’ tidak setuju dengan pendapat gurunya, Hasan al Bashri, tentang persoalan dosa besar. Kemudian, dia diusir dari majlis gurunya. Dari peristiwa ini, muncul ajaran al manzila bainal manzilatain (posisi diantara dua posisi). Washil bin Atha’ menjelaskan arti ajaran ini bahwa orang islam yang berbuat dosa besar bukanlah kafir dan bukan pula mu’min, tapi ia menempati posisi diantara kafir dan mu’min. dalam ajaran mereka disebut “Fasiq”. Dan orang yang demikian ini, bila meninggal dunia sebelum ia bertaubat, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya, tapi tidak sama dengan neraka yang di tempati orang kafir.inilah yang dimaksud dengan al manzila bainal manzilatain (posisi diantara dua posisi), yaitu posisi diantara surga dan neraka.[10]

Ø  Amar ma’ruf dan nahi munkar
Ajaran mu’tazilah mengenal tuntutan untuk berbuat baik dan mencegah segala perbuatan yang tercela, ini lebih banyak berkaitan dengan fiqih.
Kelima prinsip tersebut merupakan dasar utama yang harus di pegang oleh setia  orang yang mengaku bahwa dirinya adalah mu’tazilah, dan ini sudah menjadi kesepakatan mereka.[11]


D.    Tokoh-tokoh aliran mu’tazilah
v   Wasil Ibn ‘Atha (80 – 131 H)
   Wasil adalah pemuka dan pembina aliran Mu’tazilah, ia adalah pendiri dan letak dasar ajaran Mu’tazilah yang dirumuskan dalam lima prinsip ajaran dasar (ushul al-khamsah). Pendapat-pendapatnya kemudian dimatangkan oleh tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka datang kemudian seperti Abu al-Hudzail, Al-Nazhzham, Al-Jubbai dan sebagainya. Washil adalah salah seorang murid Hasan Al Bashri. Dia pendiri utama madzhab mu’tazilah. Dia juga pernah belajar ilmu fisika dan hadist pada Hasan Al Bashri. Dia hidup pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibnu Abdul Malik. Para pengikutnya terdapat di Afrika Utara pada masa raja Idris ibnu Badullah Al Husaini yang mengadakan pemberontakan  terhadap pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al Manshur. Dia lahir pada masa-masa fitnah yang di timbulkan oleh ajaran Al Azariqoh dari kaum khawarij tentang status pelaku dosa besar. Pada saat itu umat islam terpecah menjadi beberapa kelompok:
·         Al Azariqoh (khawarij) yang mngatakan bahwa pelaku dosa besar adalah musyrik. Dan mereka mengatakan bahwa anak orang-orang musyrik adalah musyrik sehingga halal untuk di bunuh.
·         As Sufriyah (khawarij) yang sependapat dengan az zariqoh tentang pelaku dosa besar. Mereka hanya berselisih tentang anak orang-orang musyrik.
·         An Najdad (khawarij) yang mengatakan bahwa jika dosa yang dilaksanakan adalah termasuk dosa yang telah disepakati umat islam, maka dia kafir. Namun, jika dosa itu termasuk dosa yang di perselisihkan, maka diserahkan kepada ijtihat ahli fiqih.
·         Al Ibadhiyah (khawarij) yang mengatakan bahwa status pelaku dosa besar hanyalah orang yang mengkufuri nikmat tuhan, bukan kafir musyrik.
·         Ulama’ Salaf yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah mu’min yang munafik. Menurut mereka, orang munafik lebih buruk dari pada orang kafir yang menampakkan kekafirannya.
Washil Ibnu Atha’ dengan tegas menyatakan lima pendapat diatas dan dia pula yang membawa ajaran al manzilah bainal manzilatain. Inilah yang menyebabkan mereka disebut kaum mu’tazilah, yaitu golongan yang menjauhkan diri dari mayoritas pendapat umat Islam.[12]

v   Abu al-Hudzail al-‘Allaf (135 – 226 H)
Abu al-Hudzail termasuk tokoh Mu’tazilah di Basrah. Ia banyak mempelajari buku-buku Yunani dan banyak terpengaruh oleh buku-buku tersebut, dan karena dia maka Mu’tazilah mengalami perkembangan yang pesat.[13]

v   Ibrahim ib Sayyar al-Nazhzham (wafat 231 H)
Ia adalah murid Abu al-Nadzail al-‘Allaf, orang terkemuka lancar beribicara, banyak mendalami filsafat dan banyak karangannya. Pada masa kecilnya ia banyak bergaul dengan orang-orang bukan dari Ilsam. Setelah dewasa ia banyak berhubungan dengan filosof-filosof pada masanya.

v   Al-Jahizh ‘Amr Ibn Bashr (Wafat 256 H)
Ia dikenal tajam penanya, banyak karangannya dan gemar membaca buku-buku filsafat terutama filsafat alam.[14]

v   Al-Jubbai Abu Ali Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab (wafat tahun 295H)
Al-Jubbai adalah salah seorang pemimpin Mu’tazilah yang sama kemsyhurannya dengan wasil, Abu Al-Hudzail dan al-Nazhzham. Al jubba’I adalah guru imam asy’ari, tokoh utama aliran ahlus sunnah.[15]
v   Al-Qodhi abdul jabbar (wafat 1024 M)
Abdul jabbar hidup pada masa kemunduran aliran mu’tazilah, ia diangkat menjadi kepala hakim oleh ibnu ‘abad. Diantara karangannya ialah beberapa jilid tentang pokok-pokok ajaran mu’tazilah.[16]
Demikianlah beberapa sekte dalam mu’tazilah. Disamping beberapa sekte diatas masih banyak lagi sekte yang belum disebutkan


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
v  Mu’tazilah adalah: aliran yang secara garis besar sepakat dan mengikuti cara pandang Washil bin ‘Atha’ dan ‘ Amru bin Ubaid dalam masalah-masalah teologi, atau aliran teologi yang akar pemikirannya berkaitan dengan pemikiran Washil bin ‘Atha’ dan ‘ Amru bin Ubaid.
v  Mu’tazilah muncul dengan latar belakang kasus hukum pelaku dosa besar yang telah mulai diperdebatkan oleh Khawarij dan Murji’ah. Mereka tidak mengatakan pelaku dosa besar itu kafir dan tidak juga mukmin, melainkan fasik. Dan jika dia meninggal dalam kondisi belum bertaubat maka dia berada di sebuah tempat antara posisi orang mukmin dan orang kafir, yang diistilahkan dengan al-manzilah baina al-manzilatain.
v  Mu`tazilah mempunyai lima ajaran dasar, perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat.
v  Secara harfiah Mu’tazilah adalah berasal dari I’tazala yang berarti berpisah. Aliran Mu’taziliyah (memisahkan diri) muncul di basra, irak pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat.
B.     Saran
*      Harapan saya kepada para pembaca agar mengamalkan setiap ilmu yang diperoleh agar ilmu tersebut tidak sia-sia.
*      Harapan saya kepada para pembaca khusus bagi dosen pembimbing agar studi kiranya memperbaiki setiap kesalahan / kesimpulan baik disengaja maupun tidak disengaja. Dalam uraian isi makalah ini khususnya, dan para mahasiswa umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

§  WAMY, Al-Mausû’ah al-Muyyasarah fî ‘l Adyân wa’l Madzâhib wa’l Ahjâb al- Mu’ashir, WAMY Riyadh, Cet III, 1418H, Jilid 1, hal 55.
§  Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Anlisa Perbandingan, Jakarta :UI Press. 2002
§  Abu Fatiah, Al-Adnani, Agenda Al- Muzzai, Solo : Pustaka Amanah, 1999

Abdurrazak, Ilmu Kalam, Jakarta: Bulan Bintang,
§  Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, Jakarta : Pustaka Setia, 2005
§  Nasution, Harun, Teologi Islam; Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986.
KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT, saya ucapkan atas selesainya makalah ilmu teologi islam program study ilmu kalam. Tanpa ridho dan kasih sayang  serta petunjuk dari-Nya, mustahil makalah ini dapat terselesaikan.
            Makalah ini di susun agar nantinya bermanfaat bagi manusia, program study ilmu kalam pada khususnya untuk lebih mudah dalam memahami mata kuliah ilmu teologi islam dan bagi pembaca pada umumnya.
            Kemudian saya tak lupa mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada dosen pembimbing “Bpk. Wahidul Anam, M. Ag.” Yang memberikan tugas mata kuliah teologi islam sehingga menambah wawasan saya tentang teologi islam.
            Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini terdapat kekurangan, saya mohon untuk kritik dan saran yang membangun, terima kasih.

Kediri, 14 Maret 2010
Penulis,

DAFTAR ISI


v  BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
v  BAB II PEMBAHASAN
A.    Pngertian Mu’tazilah
B.     Pokok-pokok Ajaran Mu’tazilah
C.     Tokoh-tokoh Aliran Mu’tazilah
v  BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
v  DAFTAR PUSTAKA





[1] WAMY, Al-Mausû’ah al-Muyyasarah fî ‘l Adyân wa’l Madzâhib wa’l Ahjâb al- Mu’ashir, WAMY Riyadh.
[3] ibid
[4] Op. Cit, WAMY
[5] Nasution, Harun, Teologi Islam; Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986.
[7] ibid
[8] ibid
[10] Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Anlisa Perbandingan, Jakarta :UI Press. 2002
[11] ibid
[12] WAMY, Al-Mausû’ah al-Muyyasarah fî ‘l Adyân wa’l Madzâhib wa’l Ahjâb al- Mu’ashir, WAMY Riyadh.
[13] ibid
[14] Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, Jakarta : Pustaka Setia, 2005
[15] Abu Fatiah, Al-Adnani, Agenda Al- Muzzai, Solo : Pustaka Amanah, 1999

Abdurrazak, Ilmu Kalam, Jakarta: Bulan Bintang,

Sumber

Muhammad Syafii Tampubolon | Buat Lencana Anda
 
Support : Creating Website | Template orang | Galash
Copyright © 2011. Nge-blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Kolish
Proudly powered by Blogger