Latest Post
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Alam ajarkan Aku..!

Written By Pelatihan blog on Rabu, 22 Agustus 2012 | 19.17

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Malam berganti siang - Matahari terbit dan tenggelam tiap hari.
udara dihela tak pernah habis. Kuda masih dengan tugasnya ; membawa barang barang berat sang tuan tanpa mengeluh.
rumput masih setia memberikan oksigen ke kita.
" Nikmat Tuhan manakah lagi wahai Manusia yang masih Engkau dustai?!".

Bapak para Nabi ialah Nabi Ibrahim.
mari kita mempelajari sedikit perjalanannya bersama alam.
kita kaji bagaimana Dia bisa dapat petunjuk dari sang Pencipta.
bukankah sebab Dia berbicara kepada Tuhan tentang arti dari sebuah kebenaran?

disimak arti QS Al-An’am ayat 75-80 sebagai berikut: Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin (75) Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ”Inilah Tuhanku”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

(76) Lalu, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku.” Tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, ”Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (77) Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”

Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan.” (78) Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (79) Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ”Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?

Alam mengajarkan kita arti ketuhanan. Banyak - banyaklah melihat alam sekitar kita. Maka kita akan tahu siapa Tuhan kita.
ketika lihat binatang menyusui anaknya, ternyata bukan hanya hak manusia saja yang Allah berikan. Binatang mempunyai hak yang sama.
Allah bertanggung jawab atas apa yang telah Ia ciptakan.

Allah menciptakan semua dengan seimbang. Ciptaannya sungguh sempurna.
Perempuan dan Lelaki.
Langit dan Bumi.
Matahari dan Bulan.
semua seimbang dalam kekuasaannya.
Tidak ada yang kurang dari semua ciptaannya.

tapi kadang kita buta dari sekeliling kita - buta melihat keindahan ciptaannya - buta atas kekuasaannya.
bukan sebab mata kita tak bisa melihat.
hanya hidayah-Nya tak mau masuk sebab hati kita yang keras.

Mari berdoa moga Allah membukakan hati kita untuk melihat ciptaan Allah yang sungguh luar biasa
dan memberikan kejernihan hati supaya mampu melihat cahaya matahari dan bulan dengan ketakwaan.

Waalahu a'lam


Mencari Ridha Allah

Written By Pelatihan blog on Selasa, 21 Agustus 2012 | 15.08

Penulis : Ahwal Miswari

Imam Syafi'iy pernah berkata: Manusia itu mempunyai tujuan yang tidak terbatas dan aku tidak mempunyai keinginan kecuali selamat menuju jalan kebenaran, Maka berbuatlah apa yang bermanfaat darimu kemudian fokuslah.

Diceritakan bahwa Nabi Musa 'Alaihi salam pernah mengadu kepada Tuhan ia berkata: Wahai Tuhanku sesungguhnya manusia berkata tentangku apa yang tidak ada didalam diriku!. Maka Allah Memberikan wahyu kepadanya: Hai Musa! manusia juga sering demikian terhadapku namun aku tidak ada masalah lalu mengapa engkau bermasalah?.

Malik bin Dinar pernah berkata :
Ketika aku telah mengetahui siapa sebenarnya Manusia Itu, maka Aku tidak pernah senang dengan pujian dari mereka dan Aku tidak pernah membenci olokannya. Malik bin Dinar pun lalu ditanya, Mengapa demikian wahai Syaikh? Ia berkata; pujian Manusia itu selalu melampaui batas begitu juga dengan olokannya.

Imam Syafi'iy berkata: tidaklah salah seorang diantara kalian kecuali mempunyai seorang yang ia sukai dan ia benci, apabila ini menjadi sesuatu yang mutlak maka hendaknya dia selalu bersama dengan orang-orang yang taat kepada Allah Azza wajalla.

Ibnu Jauzy berkata: Orang yang berakal adalah orang yang selalu menjaga Allah tetap disampingnya sekalipun seluru hambanya marah, karena apabila ia menjadikan makhluk selalu disampingnya dan mengeyampingkan Hak Allah, maka Allah akan memutar balikkan hatinya yang tadinya selalu memuji-muji dirinya akan berbalik membencinya.

Seorang lelaki pernah berkata kepada Imam Hasan Al-bashri: Wahai imam sesungguhnya telah banyak Kaum yang duduk dihadapanmu untuk medapatkan wejangan ilmu sebagai petunjuk jalan. Imam Hasan Al-basri lalu berkata: Sungguh celaka wahai engkau! Sesungguhnya aku berupaya merasakan jiwaku didalam surga dan akupun menikmatinya, Begitu pula aku berupaya menikmati terselamatkan dari api neraka dan akupun menikmatinya, namun ketika aku berupaya untuk menikmati terselamatkan dari manusia akupun tidak mendapatkan jalan untuk itu. Karena manusia tidak pernah rida kepada pencipta dan pemberi rezekinya lalu bagaimana mereka bisa rida sesama mereka!?.

Banyak ibroh yang bisa kita petik dari pengalaman hidup orang-orang sholeh kita dahulu karena orang-orang yang sholeh lebih mengetahui apa yang mesti mereka lakukan terhadap dirinya, maka mereka hanya mencari Ridha Allah daripada ridha manusia.


Hari Raya dan Kemunafikan

Written By Pelatihan blog on Sabtu, 18 Agustus 2012 | 07.00

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Ramdhan menghilang dari kita untuk beberapa bulan ke depan, tiap insan bahagia sebab telah datang hari kemenangan

kemenangan sebab apa? kemenangan sebab kita sudah berjuang untuk mendapatkan malam seribu bulan.
kemenangan atas ibadah yang selama ini dilakukan pada bulan suci ini.

tapi, yang jadi masalah adalah mereka yang bahagia atas kedatangan I'dul Fitri sebab bulan Ramadhan sudah tidak ada lagi, puasa, tarawikh sudah tidak ada lagi.
nauzubillah min zalik.

para Sahabat terus menangis dan berharap Ramdhan jangan meninggalkannya, tapi kita?
jauh sekali kita dengan para Sahabat Nabi.
kalau kita punya hati seperti hatinya para Sahabat, sungguh kita mendapatkan kemenangan.
tapi, kalau kita sebaliknya?!


Tidak sedikit orang yang bahagia datangnya 1 Syawal dan terlepas dari "penjara" bulan Ramadhan karena kemalasan terhadap ibadah ibadah yang ada di bulan itu.
sungguh Munafik orang tersebut.

Moga kita tidak termasuk dari orang orang yang bahagia terlepas dari bulan suci Ramdhan.
warung - kedai makan semua dibuka kalau diluar bulan Ramadhan dan sebagian mereka pun bahagia sebab mereka sudah bisa jualan lagi dan untung pun akan tambah banyak.

pelacur pelacur di jalan bisa melakukan tugasnya lagi yang selama bulan Ramadhan ditangkap dan minuman keras sudah bisa dikonsumi dan  bisa dibeli lagi di tepi tepi jalan yang sebelumnya di tutup. Bukankah mereka bahagia kalau 1 Syawal sudah datang?!

Kadang kita tidak tahu sifat Syaitan yang melekat di hati kita, tidur bersama kerasnya hati kita.
dan kalau kita fikir, kenapa Lailatul Qadar itu turun di hari hari terakhir? Dan I'tikaf di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan?
bukan awal atau pun pertengahan?

sebab hari hari pertama ibadah itu masih rajin, hari pertengahan rasa malas mulai membahasahi badannya dan saat hari hari akhir sudah jauh dari masjid, malas baca Quran, bahkan masyarakat kita sudah banyak 
yang sibuk beli baju raya, kueh raya.
memang Syurga itu mahal saudaraku..
sungguh mahal..!

belilah Syurga Allah dengan perjuangan bukan dengan sifat Munafik di dalam diri kita.
berdoalah kepada Allah untuk menjauhkan kita dari sifat Munafik.
yang cintakan 1 Syawal dari pada Ramadhan sebab ingin terlepas dari solat tarawikh, rutinitas baca Quran dan puasa.


Wa Allahu'alam

Merdekakanlah aku!

Written By Pelatihan blog on Kamis, 16 Agustus 2012 | 20.26

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Di detik ini negaraku lahir dari rahim para pahlawan negara. Di tanggal dan bulan ini pekikan takbir membahana menyelimuti tiap ruang ruang di sudut kota.
merdeka!
kata yang tajam yang menusuk tiap nafas yang mengharapkan belaskasihan negara negara lain.
kata terkenang dari darah harum para pahlawan negara.
kata terpahat dari kalbu terdalam mengeluarkan sukma.
tapi semua hanya formalitas dari peringatan tiap tahun yang diselenggarakan oleh rakyat Indonesia, tanpa merasuk pada tiang tiang kesombongan hati.
kepalsuan di antara bendera merah putih yang meracuni sampai urat nadi para pencuri harga diri.
darah pendahuluku mengalir deras di tanah ini.
memperjuangkan nasib bangsa yang tertindas dari kerakusan para penjajah.
membela kaum lemah yang terus meminta mereka jangan terus menyiksa.

Merdeka hanya dikata tanpa makna, merdeka bukan hanya laungan menyekik para pendosa.
rakyat menjerit, rakyat meronta.
rakyat pedih, rakyat kelaparan sampai tertatih tatih.

Hidup para pejabat tidak disertai makna dari sebuah kemerdekaan, negara masih dikuasai oleh penjajah dan
dalam undang undang pun masih  selalu saja merugikan rakyat.
kalau para pejuang negara masih hidup, mungkin mereka akan membunuh orang orang yang licik di parlemen atau yang biasa menjual undang undang.
mereka miskin kecintaan terhadap negara.
mereka berbicara pasal merdeka bagikan orang yang menguasai arti dari pancasila.
Indonesia belum merdeka.

kemandirian ekonomi masih cacat. Maka selama itu kita tidak akan pernah merdeka.
walau 67 tahun yang lalu Indonesia dinyatakan merdeka, tapi hakikatnya sekarang adalah penjajahan gaya baru dengan menguasai tambang tambang di Indonesia.
menguasai minyak, gas dan emas Indonesia. Maka mereka akan terus menghisap darah para penerus bangsa.
dan yang bermain di sini adalah para Munafik yang berbicara tentang makna pancasila.
di sana..! di parlemen Indonesia.
di sana..! di Istana negara.

dalam buku buku lusuh di Indonesia tertulis : Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
apa yang dihapuskan?!
kaki besi para penjajah yang mereka tanamkan di bumi pertiwi sudah hilang dibawa masa.
tapi ideologi yang mereka sebarkan di dalam undang undang di Indonesia sudah mendarahdaging tak akan pernah lepas sampai dia terbakar sendiri.

Nasionalisasi itu penting dari sebuah bangsa yang kuat dan besar.
Indonesia masih takut untuk melakukan nasionalisasi perusahaan asing di dalam negeri.
sebab penjilat itu masih banyak di negara yang notaben-nya Muslim terbesar di dunia itu, kawan!
masih banyak yang mengumbar nafsu dengan menyeka ludah ludah busuk yang mengalir di mulutnya.
jika kita ingin maju maka kita mencoba untuk mengerti dan faham betul makna dari suatu kemerdekaan.

kemerdekaan dari  nafsu.
kemerdekaan dari ketamakan
kemerdekaan dari penjajahan

merdekakanlah aku ya rabb!



Pemuda

Written By Pelatihan blog on Selasa, 14 Agustus 2012 | 21.58

Penulis : Ekta Yudha Perdana


Air laut tak pernah berubah jadi manis, mata air di dunia tak akan pernah habis, langit masih membiru dan awan pun masih memutih, semua bergerak dalam tugasnya masing masing dan tidak berubah.

Tapi kalau kita bicara umur. Maka umur akan berubah dan kulit akan mengering gigi pun akan mulai hilang.
umur tidak bisa berbohong dengan kenyataan. Umur mengajarkan kepada kita bahwa di dunia kita tak akan pernah abadi, karena diri kita pun berubah.

Badan kita, stamina kita, fisik kita, kadang nafas kita masih suka tersengal  dan semua itu berkenaan dengan hidup yang nisbi - hidup yang fana. kita tidak pernah tahu, kapan nafas ini berhenti?
sebab semua nikmat yang Allah berikan ke kita itu akan ditanya dan
sebelum kita tua maka kita akan melalu fase muda.

Fase itu dalam Quran tidak pernah tersebut bahwa standart orang itu dikatakan dewasa dan pemuda dari umur segini sampai segini. hanya saja kalau kita lihat dari sejarah, Nabi meninggal umur 63 tahun dan Nabi mendapatkan wahyu umur 40 tahun. Di titik itu Nabi sudah puncak kematangan dan sudah siap untuk menghadapi semua permasalahan yang menyapanya. Kalau kita masih umur seorang pemuda maka tidak ada kata menyerah untuk berjuang dan terus maju ke depan.

Jalan masih panjang, cita cita masih bisa digapai. Harapan pemuda bukanlah sesuatu yang kosong asalkan kita bisa untuk terus menatap dunia dengan semangat.
jangan menyerah kawan! karena pemuda adalah orang  orang yang bisa merubah dunia.

Nabi Yusuf merubah Mesir yang pada waktu itu mengalami krisis dan dia seorang pemuda, Nabi Musa melawan kejamnya Firaun itu pun  dalam keadaan dia seorang pemuda, Nabi Isa mengajak umatnya pun dalam keadaan dia seorang pemuda begitupun yang dialami Nabi Nabi yang lain. Semua berjuang membela agama Allah dalam keadaan masih sehat, fisik masih kuat, stamina tak pernah lelah. Itulah fase pemuda.

Kekuatan yang dimiliki pemuda itu jauh berbeda dengan masa kanak kanak dan orang tua. Kanak kanak masa untuk bermain dan masih belum mengenal dunia begitu pun dengan orang tua
menjaga dirinya saja tak mampu, bagaimana mau merubah dunia.

Itulah sahabatku semua...
marilah kita merubah dunia dengan cita cita, sebab kita seorang pemuda yang mempunyai naluri kemajuan dan perubahan. Maka pergunakanlah potensi yang ada di dalam diri kita untuk terus menatap dunia dengan semangat baru. 
Dunia ini ada ditangan pemuda.
bergeraklah kawan..
dunia menatapmu dengan penuh sinis.

TAUBAT ADALAH KUNCI ISTIQAMAH

Penulis : Muhammad Arabiyah Mangawing.


Mungkin saudara-suadara menanyakan tentang apa hubungannya istiqamah dengan taubat ? jawaban ringkasnya adalah seluk beluk taubat yang berfungsi laksana kunci untuk meraih istiqamah di atas jalan Allah swt, itulah kutipan singkat yang dikatakan pengarang buku ini Syeikh Abdullah bin Sulaiman al- ‘Utayyiq.
Orang yang akan melakukan taubat tentunya harus disertai dengan azzam, Ibnu Athailah Assakandary mengatakan: bila anda hendak bertaubat maka jangan sampai kosong dari memikirkan ( apa yang anda telah perbuat ) sepanjang umur.

Renungilah apa yang telah anda kerjakan disepanjang waktu siang , bila anda melakukan ketatatan maka bersyukurlah kepada Allah . namun bila kemaksiatan yang anda kerjakan , maka celalah diri anda sendiri sambil beristigfar dan bertaubat kepada Allah, sesungguhnya tidak ada sebuah majlis bersama Allah yang lebih bermanfaat bagi anda sendiri selain majlis yang senang tiasa anda mencela anda sendiri karena perbuatan maksiat anda

Berawal dari defenisi taubat secara bahasa dan istilah , banyak ulama yang memberikan komentar defenisi taubat, namun jika mengumpulkan defenisi-defenisi itu , ujung-ujungnya merujuk kepada tiga hal yang harus dilakukan dalam taubat, ada ulama yang mengatakan 3 hal itu adalah syarat taubat, yaitu;
Pertama : An-nadm [ menyesali dosa ], kedua: Al-“azimah [ bertekad untuk meninggalkan ], ketiga: Al- Iqla’ [ meninggalkan dosa tersebut ] nah, ketiga syarat ini tidk bisa dipisahkan satu sama lainnya dalam taubat,

Di dalam buku ini juga membahas tentang hukum taubat, disebutkan bahwa hukum taubat adalah wajib bagi setiap muslim , hal ini ditunjukkan oleg duia dalil:
Pertama: bebrbagai kabar dan nash yang menjelaskan hal tersebut, dan sebagian darinya telah disebutkan sebelumnyta, dan kedua: ijma”, maka dalam hal ini , imam abu hamid al-ghazali berkomentar bahwa umat islam telah sepakat tentang wajibnya taubat.
Lalu imam al-ghazali menjabarkan pembahasan ini dengan sangat detail terntang atas dasar diwajibkannya taubat, beliau mengatakan bahwa: makna sebuah kewajiban adalah sesuatu yang pasti menatangkan kebahagiaan yang abadi dan keselamatan dari kebinasaaan yang abadi. Sekiranya sebuah kewajiban tidak terkait dengan kebahasiaan dan kesusahan melalui pelaksanaan sesuatu yang meninggalkan sesuatu , tentu kewajiban resenu ttidak memiliki makna sama sekali, sebab sesuatu yang tidak memilkik tujuan yang hendak dicapai dalam melakukan atau meninggalkannya , baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang , maka tidak ada faedahnya kita menyibukkan diri sendirinya, baik kewajiban atas kita atau tidak.

Dalam kitab minhjaul abidin , imam al-ghazali menyebutkan pembagian dosa yang harus dibersihkan dari sesorang yang bertaubat. Secara umum , dosa-dosa tersebut terbagi menjadi 3 macam yaitu;
Pertama: seorang hamba yang meninggalkan perintah-perintah allah taaala seperti shalat, shiyam, zakat dan lainnya, maka hendaklah seorang hamba sebisa mungkin untuk mengqadhanya.
Kedua: dosa antara seorang hamba dengan allah . hamba tadi menyesali perbuatan dossanya dan hatinnya berazam untuk tidak mengulanginya dosa yang sama selama-lkamanya

Ketiga: dosa antara seorang hamba dengan manusia yang lain. Dosa-dosa ini ada beberapa bagian:
a. Apabila berkaitan dengan harta benda, maka sebisa mungkin ia harus mengembalikannya apabila tidak memungkinkan maka ia harus meminta dihalalkan bial ia masih hidup, namu ia sudah mati maka memungkinakan hendaklah ia bersedekah dengan mengatasnakmakannya. Kalaupun tidak mampu , maka hendaklah ia memperbanyak melakaukan ketatatan dan kebaikan kemudian berdoa agar orang tadi merelakannnya di hari kiamat kelak, sebab harta benda tersebut masih menjadi haknya.

b. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan jiwa , maka sebisa mungkin ditegakkan qisas, namun bila tidak memungkinkan , maka hendak lah berdoa kepada allah dengan sepenuh hati agar merelakannya di hari kiamat.

c. Bila dosa tersebut berkaitan dengan kehormatan seperti ghibah , berbohong, mencela, qadzaf (menuduh orang berbuat zina ), maka hendaklah ia meminta maaf secara langsung kepada orang yang telah dicemarkan kehormatannya, hal itu dilakukan jika memungkinakan dan tidak menimbulkan fitnah.

d. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan kehormatan sesorang, seperti mengkhianati isteri , anak dan lainnya, maka hendaklah ia berdoa agar hal tersebut direlakan baginyadi hari kiamat. Hendaklah ia melakukan banyak kebaikan sebagai ganti dari perbuatan dosa tersebut. Hendaklah ia tidak menyebut dosanya tersebut , sebab hal ittu malah akan menimbilkan fitnah dan melahirkan keburukan yang lebih besar. Dan jika tidak menimbulkan fitnah bahkan akan menimbulkan rasa aman maka hendaklah ia mengabarkan perbuatan tersebut, namu hal ini sangat jarang terjadi.

Dalam buku ini memuat permasalahan tentang hal-hal yang dapat memperbesar dosa besar, diantaranya adalah:: dosa yang dilakukan secara terus-menerus, meremehkan dosa kecil sehingga enteng melakukan dosa tersebut, merasa bangga melakukan dosa dan bahkan mengharap pujian atas perbuatannya yang terkutuk itu, meremehkan dan menyepelekan Allah yang telah menutupi aibnya dan mengasihi dirinya, terang-terangan melakukan perbuatan dosa , dosa tersebut muncul dari sesorang alim yang dijadikan panutan sehingga dia melakukan maksiat tanpa merasa berdosa.

Demikianlah penjabaran secara ringkas tentang faktor-faktor yang menjadikan dosa bertambah besar sehingga masuk dalam kategori dosa besar. Dan dengan adanya faktor – faktor tersebut dosa besar akan lebih bertyambah besar lagi.
Dengan demikian , kami telah menyampaikan langkah-langkah praktis bagi sesorang yang melkaukan kesalahan menuju sebuah tujuan yang sangat besar, yaitu mendapatkan ridha allah swt dengan mensucikan jiwa dan membersihkan hati, juga hal-hal yang berkaitan dengannya dan segala bentuk wasilah untuk mencapainya.

Ya Allah anugerahkanlah ketaqwaan untuk jiwa kami, sucikanlah ia, sesungguhnya engkau sebaik-baik dzat yang mensucikan, engkaulah pemilik dan sekaligus yang mengurusi nya, ya allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’, mata yang tidak menangis , jiwa yang tidak pernah merasa puas dan dari doa yang tidak terkabulkan.

Ya Allah ampunilah kami dan terimalah taubat kami , sesungguhnya engkau maha pengampun lagi maha menerima taubat. Semoga allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kami dan nabi kami rasulullah muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. Amin.


Berdoalah saudaraku...

Written By Pelatihan blog on Kamis, 26 Juli 2012 | 08.34

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Kita tak perlu melepaskan diri atau pura pura tidak tahu apa yang telah terjadi di Myanmar dan Syiria. Darah orang Islam begitu murah dibeli oleh musuh musuh Allah padahal sesama Islam harus saling membantu, tapi semua hanya kata kata kosong – harapan hampa.
Kita memang tidak merasakan apa yang mereka rasakan, sebab kita belum menjadi mukmin sejati, hanya Islam keturunan, orang tua Islam kita pun ikut Islam.
Sekadar itu bukan keimanan kita?
Bulan Ramadhan pun mereka masih dengan ketakutan, penyiksaan, pembantaian, pemerkosaan, pembunuhan dan dunia pun tanpa suara diam tanpa dosa, PBB hanya melihat tak berkata apa apa. Umat Islam hanya menonton di TV atau media massa. Tidak bisa berbuat banyak.
Umat Islam sekarang itu banyak Cuma tak bersatu, jadi mudah untuk merusak dan melakukan konspirasi sesama umat Islam.
Semua di provokasi dan yang membuat kita menelan ludah adalah sudah tahu kita diprovokasi oleh Yahudi tapi masih saja tidak sadar diri. Sibuk dengan urusan pribadi, sibuk dengan makanan apa yang kita makan untuk berbuka puasa, sibuk dengan emas berapa gram yang kita akan beli.
Tapi coba kita fikirkan sejenak, saudara di Somalia yang kelaparan ketika puasa datang tidak sahur dan tidak berbuka, sebabnya hanya karena tidak ada makanan buat dimakan.
Berfikirkan kita?
Kita senang di sini, doa pun kita tidak sanggup untuk kita berikan ke saudara kita itu..!
Minta ampunlah sama Allah wahai saudaraku..
Kita di dunia tidak lama, kita tidak mampu menolong saudara kita di Syiria, Myanmar, Palestina dan belahan dunia yang lain.
Tapi dengan doa bentuk kita masih peduli atas nasib mereka itu, doa pun kita tidak mau apalagi berkorban yang lebih berat dari itu.
Tangisan mereka sudah darah, tiap hari menangis dan bukan tangisan bahagia melainkan tangisan lihat anaknya dibunuh, anak dia diperkosa, ayah dia disembelih.
Berdoalah wahai umat Islam untuk kemenangan Islam dan kemulian Islam.
Moga Allah selalu menjaga umat Islam.
Amin ya Rabb..

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Dua jam bersama Syaitan

Written By Pelatihan blog on Rabu, 25 Juli 2012 | 20.21

Aku pernah berdiri di depan jamaah jumat, memberikan khutbah, yang merupakan salah satu rukun shalat jumat. Pertama kali mungkin agak nervous, tapi selanjutnya terbiasa. Akhir-akhir ini aku jadi berpikir, mimbar masjid, ya..mimbar mesjid. Mimbar mesjid untuk khutbah jumat bukan tempat pamer kafasihan berbicara, bukan tempat pamer kemahiran berorasi, tetapi mimbar itu tempat memberi nasehat dan saling mengingatkan. 1432 tahun lalu, mimbar jumat itu dipakai oleh Rasulullah, barang siapa yang menggantikan beliau di tempat itu, paling tidak, dia itu berakhlak seperti akhlaq Rasulullah semampunya, dan selalu mengikuti sunnah Rasulullah. Sehingga saat dia mengatakan“ittaqullah…”, dia tidak berbohong dan tidak menyalahi kata-katanya sendiri, biar orang-orang tidak melihat perbuatannya kebalikan dari kata-katanya di atas mimbar.

Mimbar jumat bukan mimbar biasa yang pada permulaannya pembicara mengatakan, “Yang terhormat….”, dan tidak ada basa-basi penghormatan lain kepada orang-orang tertentu di depannya, tetapi dia melihat dengan mata Syariah, semua yang di depannya sama, semua hamba Allah, tidak ada yang kaya tidak ada yang miskin, yang membedakan mereka adalah tingkat ketakwaannya pada Allah. Dia berbicara atas nama Syariah, makanya dia diterima di atas mimbar, padahal dia tidak lain hanya meminjam “kehormatan” Syariah saja.



ada cerita menarik tentang Syeikh Aly Tantowy yang wafat tahun 1999, beliau adalah khatib di salah satu masjid di Damascus. Beliau bersiap-siap beberapa hari sebelum khutbah jumat, beliau selalu tidur cepat, agar terbangun tengah malam untuk melaksanakan shalat isya dan qiyamullail, dengan harapan menjadi salah satu “mutahajjidin”, seperti seorang tamu tak diundang pada jamuan makan yang hanya diundang orang-orang mulia saja, “Semoga saja, aku bisa menjadi salah satu tamu Allah yang dirahmati-Nya di antara tamu-tamu agung lain, meskipun cuma sekali seumur hidupku, aku memang bukan mereka, bahkan menjadi abu di sandal mereka saja aku tidak pantas, tapi meniru mereka kan’ tidak salah”. Biarkan beliau sendiri yang menceritakan pengalamannya itu.

======================

Aku tidur cepat, aku sudah berniat untuk bangun tengah malam, dan shalat isya serta sunnat. Tepat pada jam yang telah ku atur di jam waker-ku, aku terbangun, seakan ada yang membangunkan, padahal jamnya belum berbunyi. Aku berusaha untuk bangun, aku harus berjuang melawan hangat dan empuknya kasur, sepertinya mataku tidak mau terbuka, keinginan tidur dan keinginan melaksanakan kewajiban shalat isya bertarung di dadaku. Seakan ada suara berbisik di telingaku, “Waktu masih panjang, tidur saja sebentar lagi, kasihan kasur yang hangat, besok kamu kan harus bekerja sampai sore, jadi istirahat saja dulu sebentar lagi”, akhirnya aku menjatuhkan badanku lagi dan tenggelam dalam hangat dan empuknya kasur”, ada suara lain berbisik, “Bangun, kamu tadi sudah janji mau bangun, ayo tepati janjimu, serahkan saja semua pada Allah, ingatlah betapa besarnya pahala kesabaran dalam ketaatan, kalau seandainya sekarang ada orang datang membawakan kepadamu api atau 100 Pound, pasti kamu segera melompat bangun dari kasurmu, bagaimana dengan neraka Jahannam dan Surga yang dijanjikan padamu?”

Suara pertama datang lagi, “Nyantai aja dulu, bolak-balik dulu di kasur sambil menunggu kesadaranmu dari alam mimpi datang”, akhirnya aku membalikkan badanku, sungguh nikmat, aku sangat menikmati tidur ini, lebih nikmat dari apapun. Suara kedua datang lagi, “Woi..itu setan, yang menggodamu agar kamu lupa shalat isya, ayo bangun!”

Aku bingung, dengan dua suara yang terus berkecamuk di telingaku, seperti suara detakan jarum jam dinding, “bangun”,”tidur”, “bangun”,”tidur”,“bangun”,”tidur” “bangun”,”tidur”,….



Aku tahu, dua perbedabatan itu tidak ada akhirnya, sampai aku tertidur, terlewat shalat isya dan subuh kesiangan. Maka aku harus segera menghentikan salah satunya, akhirnya aku memilih “bangun”. Aku mengucapkan Auzubillah, dan memohon pada Allah agar dikuatkan, dan aku bertawakkal pada-Nya. Setelah aku bangun, aku tidak mendengar lagi suara, “tidur”. Aku bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, aku senang bisa mengalahkan setan.

Akupun berdiri untuk melaksanakan shalat, aku ingin memutuskan hubungan dengan dunia, aku hanya ingin saat-saat tengah malam begini berdua dengan Tuhanku, shalat yang khusus dan berdoa. Akupun bertakbir, “Allahu Ak….”, belum sempat kusempurnakan takbiratul ihramku, tiba-tiba pemikiran tentang dunia kembali muncul di kepalaku, ku ulangi lagi bertakbir, setelah mencoba mengumpulkan kekusyukan yang tadi hilang, aku berusaha fokus dan khusyu, tiba-tiba hal yang sama terjadi, ku ulangi lagi, begitu lagi, sampai berkali-kali. Aku heran, belum pernah aku merasakan hal ini.




(bukan MU loh ya, hehe)
Akhirnya aku mengucap kalimat Allah dan Auzubillah, aku baru tenang. Kini aku tahu sebabnya kenapa aku begitu, itu adalah setan. Tadi waktu aku mengingat Allah dan berhasil melompat bangun dari kasurku, aku merasa bangga dengan apa yang kulakukan, aku mengira diriku sudah termasuk dalam golongan orang shaleh, yang mampu melawan setan, setan melihat rasa bangga itu adalah pintu baru untuknya. Dia datang menjelma seakan orang yang memberi nasehat, padahal mau merusak shalatku. Seakan dia menasehatiku agar shalat yang khusyu, jangan ada sedikitpun dunia ketika mulai takbir, aku harus benar-benar menghadap Allah. Aku membaca Auzubillah dan mulai shalat.

Setelah selesai shalat, suara itu datang lagi, “Shalat apa ini?nggak ada khusyu sama sekali? Shalat itu kalau nggak seperti disuruh dengan khusyu, sama saja bohong”. Aku sadar, ini adalah salah satu cara setan merayu orang yang shalat. Dia mengatakan, “Shalat itu bukan cuma sujud, rukuk dan bacaan-bacaan ritual yang sering kamu baca, tetapi shalat yang benar adalah shalat yang khusyu yang bisa mencegah kamu dari perbuatan maksiat dan mungkar, sehingga setelah shalat dia tidak akan lagi mengerjakan maksiat, shalat yang dikerjakan dengan penuh khidmah, tidak ada mikir dunia waktu shalat, dia khusyu sekali, tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, tidak mendengar suara apapun di dunia, jiwa dan raganya bersama Allah”. Ketika pemikiran seperti itu merasuk dalam jiwa orang-orang Islam yang lemah, maka mereka akan berpikir, “Yah, kalau shalat kita nggak dianggap shalat karena nggak bisa begitu, lagian aku juga sudah berusaha lebih baik tapi aku tidak bisa, ngapain lah kita capek-capek bangun subuh shalat, capek sujud, capek rukuk tapi nggak dapat pahala!mendingan nggak usah shalat sekalian!”. Sukses…, itu tujuan setan, agak kita meninggalkan shalat.

Allah tidak pernah membebankan kepada kita apa yang kita tidak mampu, Syariah memang Syariah, tetapi Syariah juga tidak menafikan kita sebagai manusia, orang shalat ya harus khusyu, khusyu semampunya, tingkat khusyu yang paling rendah adalah dia sadar apa yang sedang dibaca, jangan sampai dia baca..”Inna shalati wanusuki mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin,arrahmanirrahim, maliki yaumiddin…”. Kalau ada pikiran tentang dunia mampir, yang pastinya itu selalu ada dalam pikiran manusia, bedanya ada yang banyak ada yang sedikit, dia mengingat Allah lagi dengan takbiratul ihram, yang diucapkan setiap berpindah dari gerakan ke gerakan dalam shalat. Kalau kita mengatakan syarat sah shalat harus khusyu, dia tidak melihat apapun di sekitarnya, dia tidak mendengar suara apa saja di sekitarnya, ini adalah syarat yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun dalam Islam. Rasullah saja pernah memperpanjang sujudnya saat ada salah satu anak Fatimah naik ke punggungnya, karena beliau merasa ada anak kecil di punggungnya. Beliau juga membolehkan kita membunuh ular dan kala jengking meskipun kita dalam shalat, dan membolehkan kita menghalangi orang yang lewat di depan kita yang sedang shalat. Itu artinya orang yang shalat merasa, melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi siapa yang bilang harus shalat khusyu seperti itu? Kalau nggak seperti itu tidak sah!

Kalau kamu shalat 5 waktu terus, tapi maksiat juga masih jalan, shalat tetap dikerjakan, jangan ditinggalkan, tapi bertaubatlah, minta ampunlah dan minta kekuatan agar Allah menjagamu dari maksiat. Mendingan masih shalat meskipun kadang-kadang diselingi maksiat, dari pada meninggalkan shalat sama sekali dan tetap berbuat maksiat.

Syeikh Tantowy meneruskan ceritanya:

Saat setan tahu kalau tipu dayanya kali ini gagal lagi, dia membisiki di telingaku, “Mantap, shalat kamu sudah sempurna, ini dia yang namanya shalat. Kamu adalah orang alim, shaleh, wali Allah, setan kini tidak mampu mendekatimu lagi! Kamu adalah ahli surga, bersyukurlah”.

Kurang ajar, laknatullah alaik ya syaithan! Kamu ingin merayuku lagi! Setiap muslim belum ketahuanjuntrungannya sampai dia meninggal, apakah saat meninggal dia husnul khatimah atau tidak!semoga Allah menjadikan kita semua orang yang husnul khatimah, mati dalam keadaan beriman pada Allah.

Kemudian aku duduk membaca quran, mulai lagi setan datang merayuku, agar aku tidak bisa mentadabburi isi kalam Allah, dia mengatakan, “Makharij huruf kamu tidak benar, tajwidnya juga masih salah, mana yang panjang, mana yang pendek, mana yang tebal mana yang tipis? Itu yang pertama harus kamu perhatikan, tadabburnya nanti saja.”, dia mau aku menyibukkan diri dengan tajwid dan makharij huruf, dan melupakan tadabbur isi Quran. Padahal aku tidak pernah mendengar para Sahabat Nabi menyibukkan diri dengan tajwid daripada tadabbur, bahkan Ulama Salaf memakruhkan keterlaluan dalam hal itu[1].


Kemudian dia membisiku agar aku membaca Quran dengan cepat tanpa harus paham, kan yang penting baca, biar aku bisa khatam 30 juz dalam 2 atau 3 hari! Kemudian dia menyuruhku mempelajariqiraat-qiraat lain, dan membacanya di depan orang, agar terlihat aku hafal Quran dan semua qiraat. Dan menurutku pribadi, hal ini tidak boleh, karena akan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat awam dan menumbuhkan ujub dalam hati pembaca.



Semua itu tidak baik, karena tujuan dasar membaca Quran adalah untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan isinya. Membuat bacaan Quran sebagai seni, sumber mata pencaharian, hadiah diberikah kepada orang yang paling panjang nafasnya, bisa membaca sepuluh ayat dengan sekali tarik nafas, hadiah diberikan kepada orang yang paling indah suaranya saat melagukan Quran…..

Quran itu bukan untuk dikhatamkan berkali-kali tanpa dipahami, bukan untuk dibaca dengan bermacam-macam bacaan tanpa dimengerti, bukan hanya diperhatikan tajwidnya, lagunya, tapi Quran itu Undang-Undang, di dalamnya ada perintah dan ada larangan, yang harus dipahami dan dimengerti, dikerjakan perintahnya dan dijauhi larangannya, dan dihormati batasan-batasannya.

Aku terus membaca Quran sampai matahari pun terbit. Kemudian aku mengatakan pada diriku, “Hari ini aku akan berusaha untuk selalu bersama Allah sampai malam tiba”. Tiba-tiba setan datang lagi, dia berbisik, “Alah, songong!nggak mungkin!itu sangat susah, mustahil kamu sanggup!”

Aku membalasnya, “Tidak, tapi demi Allah ini sangat mudah. Ini adalah usaha dengan langkah yang sangat sederhana, aku hanya perlu mengingat bahwa aku melihat Allah dimanapun aku berada, kalaupun aku tidak melihat-Nya, tapi aku yakin Dia melihatku”.


Footnote:

[1] Lihat: Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Talbisul Iblis karya Imam Ibn Jauzy dan Ighatsatul Lahfan karya Imam Ibn Qayyim.



NB:

1- Hanyalah sebuah repost dari syekh atjeh; Saifanur.

2- Banyak mabadi'/worldview nya bagus2, ttg setan, khusyuk, kesombongan, khutbah, dll. faltatanabbah!

3- Tentang setan, video ini juga cukup membantu utk tadzikrah: http://www.youtube.com/watch?v=1z2NFxnMEhc

4- Semoga bermanfaat.





Penulis : Muhamad Rifqi Arriza

Know your anemies!",

Dalam militer ada sebuah motto yang ditanamkan dalam setiap individu mereka, yaitu; "Know your anemies!", Kenali musuhmu, karena hal ini sangat prinsipil dalam segala tindakan dan pembuatan keputusan, agar bisa diambil tindakan yang tepat dan bijaksana. Begitu juga dalam kehidupan kita sebagai manusia, harus mengenali musuh, apabila kita sudah kenal, maka kita harus mengetahui gerak-gerik dan rencana yang dibuat musuh untuk kita.

Musuh kita telah jelas, Allah menjelaskan secara tegas dalam al-Quran, dalam surat al-Fathir ayat 6 Allah berfirman," Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia (benar-benar) musuhmu". Sekarang kita sudah tahu musuh, tapi kita juga harus tahu apa saja rencana dan tujuan mereka, dalam beberapa ayat Allah menjelaskan rincian tujuan musuh kita itu, antara lain dalam surat al-Hijr ayat 39, "Iblis berkata, Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya". Dalam surat al-Isra ayat 62 Allah berfirman, "Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Dalam surat an-Nisa ayat 38 Allah berfirman, "Barang siapa yang mengambil syaitan sebagai teman, maka itulah seburuk-buruk teman". Dalam surat al-Zukhruf ayat 36 Allah berfirman," Barang siapa yang berpaling dari ajaran Allah yang Maha Pemurah, maka kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkannya), maka syaitan itulah yang menjadi temannya yang selalu menyertainya". Dari beberapa ayat di atas jelas kita tahu tujuan utama yang direncanakan musuh kita itu adalah menyesatkan kita dari jalan Allah dan mencari teman untuk menemaninya kelak di neraka.

Setelah kita ketahui siapa musuh dan apa saja program mereka, kita harus mengetahui kurikulum yang ditempuh mereka untuk merealisasikan rencana-rencana itu. Sebenarnya sebesar mana pengaruh syaitan dalam menyesatkan manusia? Apakah memang semua manusia bisa disesatkan?

Ada tiga golongan manusia yang menjadi objek syaitan:
Ahli maksiat, yaitu orang-orang yang memang mata hatinya telah tertutup, hanya Allah yang punya kuncinya. Mereka selalu bergelimang dalam maksiat, sehingga tanpa dirayu oleh syaitan maksiat tetap jalan. Nah, kelompok ini tidak lagi diurus oleh syaitan, karena program penyesatan sudah sukses.
Umat pengecualian, umat yang disebutkan dalam surat al-Isra ayat 62, "Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil", yaitu umat yang disebut "Kecuali sebagian kecil". Siapakah mereka? Mereka adalah umat yang disebutkan Allah dalam surat al-Hijr ayat 40, “Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka". dan surat Shaad ayat 83," Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka". Mereka adalah hamba-hamba yang diberikantaufiq untuk mentaati perintah Allah, karena mereka ikhlas menjadi hamba Allah seperti Allah ikhlas menjadi Tuhan mereka. Nah, mereka ini tidak mampu diganggu oleh syaitan.
Manusia biasa, mereka adalah orang-orang yang dalam perjalan menuju jalan Allah, ada yang sedang berusaha mencari, ada yang sudah menemukan, ada yang mulai berjalan meniti jalanan yang berbatu itu menuju Allah. Mereka adalah umat-umat yang sangat gencar dibuntuti oleh syaitan untuk disesatkan.

Jadi apa peran syaitan dalam hal ini? Peran mereka tidak lain adalah merayu dan memprovokasi agar kita jauh dari jalan yang digariskan Allah untuk kita tempuh. Dalam menjalankan tugas itu syaitan juga mengetahui apa yang diinginkan oleh setiap manusia, dan itu merupakan hal yang ada pada setiap manusia.

Dari kisah dosa pertama yang dilakukan oleh Nabi Adam, kita bisa melihat trik syaitan ketika melancarkan serangannya, dalam surat al-Araf ayat 20 dijelaskan, "Dan Iblis berkata, " Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". Dalam surat al-Kahfi ayat 107-108, Allah menjelaskan surga yang akan kita tempati kelak nanti, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya".



Dari dua ayat tersebut kita bisa memahami bahwa naluri manusia itu selalu ingin menjadi yang tertinggi, terhebat dan kekal dalam keadaan seperti itu. Malaikat adalah figur makhluk Allah yang paling patuh dan tinggi derajatnya, surga Firdaus adalah surga yang paling tinggi, dan Allah menjanjikan kekekalan di sana. Dua hal itu yang menjadi titik di mana syaitan memulai misinya. Jadi jelas syaitan hanya berperan merayu dan memprovokasi, karena mereka tidak memiliki kemampuan menguasai (sulthan) manusia, seperti yang dijelaskan Allah dalam surat al-Isra ayat 65.

Setelah mengetahui musuh dan rencana-rencana mereka, mari kita lihat kurikulum dan metode yang mereka gunakan untuk melancarkan misi itu:
Mengajak kepada kebaikan, bagaimana mereka mengajak kepada kebaikan? Mereka mengajak kepada kebaikan yang lebih kecil, mereka berusaha untuk menjauhkan Fiqh Prioritas dari kehidupan kita, sehingga kita kehilangan standarisasi hal penting, hal lebih penting dan hal tidak penting. Kita lihat banyak saudara-saudara kita yang pergi Umrah setiap Ramadhan, itu menghabiskan 15-20 juta, padahal di sekitar mereka banyak orang yang seharian mengais rezeki tapi hanya mendapat 5000 rupiah, padahal disekitar mereka banyak anak-anak yatim yang tidak bisa sekolah karena tidak mampu membeli buku dan tidak bisa membayar SPP. Umrah memang ibadah dan itu baik, tapi bukankah memberi makan orang miskin dan menyumbangkan biaya pendidikan bagi anak-anak itu lebih bernilai ibadah? Hal itu ibarat dua orang yang berdagang yang masing-masing memiliki modal 1 juta, yang satu mendapat untung cuma 10.000 dari 1 juta dan satu lagi mendapat untung 100 juta dari modal 1 juta.

Mengajak untuk meremehkan dosa kecil, syaitan selalu membisiki, "Alah, gaji sekarang cuma 3 juta, mana cukup untuk membiayai kehidupan sebulan, korupsi dikit nggak apalah, makan suap sedikit biasa!", Suami dibisiki untuk mengatakan kepada istrinya, "Mama, tadi ada cewek cantik, putih, tinggi, hidungnya mancung, bodinya kayak gitar spanyol, tetangga baru kita", Dia hanya bercanda dengan ucapan seperti itu, dan dia menganggap istrinya tidak akan merasa tersakiti, dia meremehkan ucapan kecil di mulutnya itu, padahal ketika mendengar itu hati istrinya hancur, meskipun dia hanya menunjukkan senyum manisnya, ini adalah peremehan dosa kecil dan penggunaan hak yang semena-mena, karena dia tahu tidak mungkin istrinya akan mengatakan, "Pa, tetangga baru kita punya mobil baru, orangnya ganteng, tinggi, bodinya keren"!

Tabrir kesalahan, yaitu mencari-cari alasan untuk untuk selalu membenarkan diri meskipun salah, dengan menggunakan berbagai dalih dan cara. Hal ini adalah kesombongan yang menyebabkan orang tidak mau mengakui dosa, meskipun dia tahu dan sadar itu dosa. Dengan ini dia telah melakukan dua dosa dalam satu waktu, pertama melakukan dosa yang jelas-jelas dosa dan kedua mengingkari dosa yang dilakukannya itu. Ini adalah kurikulum syaitan yang paling bahaya, apabila dipraktekkan terus-menerus bisa menyebabkan kekufuran, karena mengingkari dosa dapat menyebabkan hati tertutup. Berbuat dosa tetapi mengakui itu dosa dan menyadari pebuatan itu dilakukan karena kelemahan bukan karena menantang Tuhan dengan kesombongan, lebih baik dari pada mentabrir kesalahan-kesalahan kecil.

Permasalahan dengan syaitan tidak akan pernah selesai, dan tidak akan ada manusia yang bisa selamat dari godaan, bisikan, rayuan dan provokasi syaitan, kecuali orang-orang yang ikhlas, yang ikhlas menjadi hamba Allah dengan mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, seperti Allah ikhlas menjadi Tuhan bagi mereka dengan selalu mencintai mereka dengan anugerahNya yang tak terhingga. Kita baru terbebas dari syaitan ketika dua kaki kita telah berpijak di halaman surga, makanya seorang ulama pernah mengatakan saat beliau sakratul maut ketika syaitan datang mengatakan, "Engkau telah selamat dari godaanku, selamat jalan", ulama itu menjawab, "Tidak wahai Iblis terlaknat, aku belum selamat darimu meskipun sebelah kakiku telah menginjak taman surga!"



Mungkin mengenali musuh dalam kehidupan nyata sangat mudah, tapi untuk mengenali musuh yang tidak terlihat, musuh yang bergerilya, musuh yang sangat halus sangatlah sulit, tapi ternyata ada hal-hal kecil yang sering kita lupakan, yang pada dasarnya hal kecil itulah yang menjadi penangkal dan senjata kita melawan musuh besar itu. “know your anemies” adalah salah satu hal kecil yang jarang diperhatikan saat melawan musuh. Wallahu A'alam.



#dari seorang penulis muda dari Atjeh; Saief Alemdar. semoga menjadi amal jariyah, amin.

Awal Ramadhan 1433H; Mesir, Indonesia, dan Muhamamdiyah



Awal Ramadhan 1433H; Mesir, Indonesia, dan Muhamamdiyah


Saat ini, mendapati umat Islam memulai puasa ramadhan di hari yg sama mungkin merupakan sebuah utopia. Sudah banyak kalangan umat yg menyayangkan fenomena ini. Jangankan antar negara islam/arab, di tanah air kita, satu negara saja tidak mau melakukan amal jama'I ini dengan bersama-sama. Tak ayal, kita menjadi bahan tertawaan non muslim, what a shame!



Tulisan ini bukan utk mengutuk ormas atau negara tertentu, kemudian menjual klaim kebenaran sepihak a.k.a anarkisme intelektual. Insya Allah, penulis akan mencoba mengulas seobyektif mungkin dalam melakukan pembacaan, analisa, dan kritik atas penentuan awal ramadhan 1433 H di Mesir dan Indonesia.


Fenomena Mesir

Pada kamis 19 juli, koran mingguan al-Liwa' al-Islami menurunkan tulisan ttg fenomena penentuan awal ramadhan di Mesir dan negara-negara arab, serta perdebatan yg ada di dalamnya. Tak lupa, sang reporter menyisipkan harapan persatuan kalender umat di sela-sela tulisan. Berikut saya sampaikan rangkuman tulisan tersebut.
Di awal tulisan, sang reporter Arwa Hasan menyajikan perbedaan pendapat antara dua kubu besar kelompok ahli falak di dunia Islam, yaitu ICOP (Islamic Crescents' Observation Project)[1] dan NRIAG (National Research Institute of Astronomy and Geophysics)[2].


ICOP mengeluarkan pernyataan pada ahad (15 juli) lalu, bhw hilal tidak akan terlihat pada 19 juli di hampir seluruh dunia Islam. Sedangkan di bbrp negara, walaupun moonset terjadi setelah sunset, tp ia tidaklah lama. Suatu fakta yg mengindikasikan bhw hilal tidak akan terlihat, walaupun menggunakan teleskop terbesar sekalipun. Setidaknya begitulah klaim pihak ICOP.


Di pihak lain, NRIAG membantah hal itu. Bahkan pihak NRIAG menegaskan bhw jumat (20 juli) adalah awal ramadhan 1433 H, seraya memberikan data yg lengkap perihal mukus[3] hilal di banyak negara arab/Islam[4]. Dan ternyata, prediksi NRIAG lebih akurat, terbukti dengan banyak negara Islam yang memulai ramadhan pada hari jumat, sebagaimana disebutkan oleh situs moonsighting.com[5].


Pada akhir wawancara, Prof Hatim Audah (pimpinan NRIAG) menegaskan bahwa ilmu falak itu banyak macamnya, dan setiap negara bisa berbeda-beda penerapannya. Dan yg pasti, NRIAG akan selalu bekerjasama dengan Dar el-Ifta dalam menentukan awal bulan, tak terkecuali ramadhan kali ini. Dan jika Dar el-Ifta menentukan bahwa sabtu (21 juli) adalah awal ramadhan, kami akan tetap ikut, tandas Prof. Hatim.


Selanjutnya Arwa Hasan menyajikan wawancara bersama mufti Mesir, syekh Ali Jumah. Ringkasnya, perihal penentuan awal bulan hijriah, syekh Ali mempunyai beberapa pendapat:

1. Rukyah adalah pokok, dan inti. Al-ru'yatu huwa al-ashlu.

2. Beliau menganut pendapat ittihadu'l mathâli', bahwa saat ada satu negara muslim yg dapat melihat hilal, maka besoknya adalah awal bulan bagi semua negara muslim lainnya. Hal ini beliau rujuk dari hasil muktamar yg diselenggarakan oleh Majma' al-Buhûts al-Islâmiyyah pada tahun 1966.

3. Beliau sempat menyinggung teori visibilitas hilal, tp tidak menyebutkan berapa derajat minimalnya. Berikut teks aslinya:

إذا قطع أهل الحساب بأن هلال رمضان يولد يوم 29 من شعبان ويمكث فوق الأفق بعد غروب شمس هذا اليوم مدة يمكن رؤيته فيها، فإنه فى هذه الحالة يُعمل بقول أهل الحساب الموثوق بهم.

4. Beliau sangat apresiatif kpd ilmu falak, dan sama sekali tidak menafikan urgensitas ilmu hisab dalam menentukan awal bulan kamariah.

5. Bahkan beliau menyangsikan keakuratan rukyat pada masa sekarang, karena polusi yg telah merajalela. Jika kita hanya bergantung kepada rukyat, mungkin kita akan terus-terusan istikmal, tegas beliau.

6. Di akhir wawancara, syekh Ali Jumah seperti tidak konsisten dengan al-ru'yatu huwa al-ashlu, beliau menegaskan bahwa kita harus memakai ilmu hisab awwalan wa akhiran, bahkan jika rukyah tidak dapat dilakukan, demi menuju rukyah global. Berikut teks aslinya:

أن تحديد بداية الشهور العربية بالحساب الفلكي أمر قطعي فى ثبوت بداية الشهر، ولتجاوز الخلاف والاختلاف، ينبغي علينا أن نتمسك بالحساب الفلكي ابتداء وانتهاء، فالمسلمون فى كل مكان عليهم أن يصوموا بمثل ذلك الحساب الفلكي، حتى لو بقي الهلال دقيقة بعد غروب الشمس، و حتى لو تعذرت رؤيته، وبذلك سنتفق و نصل إلى رؤية موحدة.
Selanjutnya, Arwa Hasan berturut-turut menyajikan wawancara bersama Dr. Alwy Amin[6], Dr. Muh. Abu Laila[7], dan Dr. Zaki Muh. Usman[8].

Yang menarik adalah pernyataan Dr. Zaki, bahwa dalam menyikapi pemakaian ilmu hisab dalam menentukan awal bulan kamariah, ulama terbagi menjadi tiga kelompok: 1) memakai rukyah an sich, dan menafikan ilmu hisab 2) membolehkan penggunaan ilmu hisab 3) bahwa ilmu hisab hanya dapat menafikan rukyah saat hilal berada di bawah ufuk, tapi tidak bisa menjadi landasan penetapan awal bulan saat hilal berada di atas ufuk. Kaidah ini biasa diungkapkan dengan:

الحساب الفلكي ينفي ولا يثبت



Kaidah ini diambil oleh Dar el-Ifta sebagai metode pokok dalam menentukan awal bulan kamariah.[9] Kemudian Dr. Zaki mengangkat wacana ittihâdu'l mathâli' yg telah disepakati oleh banyak ulama di muktamar Jeddah th. 1998, dengan syarat negara tersebut masih satu malam dengan negara lain yg telah melakukan rukyah.

Pada prakteknya, penulis sempat deg-deg an menunggu hasil sidang itsbat Dar el-Ifta pada hari kamis silam. Apakah sang mufti akan menetapkan hari jumat sebagai awal ramadhan dengan kesaksian rukyat dari negara lain yg notabene dengan mudah dapat merukyat hilal (ex: Nigeria, Mauritania, Sudan, dll), atau tetap akan bersikukuh dengan metodenya (al-hisâb al-falaki yanfî wa lâ yutsbit) (?), sedangkan ICOP mengklaim bahwa hilal tidak akan mungkin terlihat di Mesir, walaupun memakai teleskop terbesar sekalipun. Puji Allah, hilal terlihat di daerah Qena dan Tushca.



Penulis sendiri bersyukur dapat berkesempatan mengikuti prosesi rukyah hilal dengan petugas rukyah setempat, tepatnya di daerah Helwan, Kairo. Disamping hal ini adalah pengalaman pertama 'mengintip bulan', banyak pertanyaan yg mulai terjawab dengan praktek rukyah ini[10].



Menurut hemat penulis, metode Mesir dalam menentukan awal bulan kamariah (itsbât) dapat dirangkum dlm beberapa poin sebagai berikut:
Hilal harus diatas ufuk di kawasan Mesir, yaitu dengan merujuk perhitungan hisab dari ahli falak yg terpercaya.
Tidak ada standar khusus utk menentukan visibilitas hilal yg dapat dirukyat. (menganut pendapat Wujudul Hilal?).
Mesir cenderung menganut pendapat ittihâdu'l mathâli', walaupun hal itu tidak dijelaskan secara eksplisit di kitab shiyâm yang diterbitkan oleh Dar el-Ifta. Tapi sayang, penulis belum menemukan prakteknya selama ini.
Khusus utk penetapan bulan zulhijjah, Mesir akan ikut dengan keputusan Saudi. Demi persatuan, dan menjauhkan umat dari kebingungan[11].



Fenomena Indonesia: Pemerintah vs Muhammadiyah (?)



Sebagaimana diprediksi, akan terjadi perbedaan awal bulan ramadhan di Indonesia tahun ini. Pemerintah tetap bersikukuh dengan 2-3-8 nya, sedangkan Muhammadiyah bersikeras bahwa Wujudul Hilal lah konsep yg paling ilmiah.



Pada dasarnya, konsep yg ditawarkan oleh Muhammadiyah cukup akurat, hal itu jg diakui oleh para ahli falak yg ditugaskan oleh pemerintah[12]. Muhammadiyah hanya tidak mengakomodir teori visibilitas hilal versi MABIMS yg juga dipegang oleh pemerintah. Bahkan menurut penulis, WH versi Muhammadiyah lebih dekat dengan konsep yang dipakai di Mesir.



Tapi bagaimanapun, bukankah masih ada ulil amri di Indonesia. Dan penentuan awal bulan kamariah adalah wewenang Kemenag, hal ini juga tercantum di undang-undang[13]. Kalau sudah begitu, kenapa kita tidak mengedepankan taat kepada ulil amri? Di Mesir, para ahli hisab pun akan 'angkat tangan' jika Dar el-Ifta telah memberikan keputusan. Betapapun hal itu sangat debatable dari sisi ilmu hisab. Kejadian penentuan hari idul fitri tahun kemarin bisa dijadikan contoh[14].



Syekh Qaradawi menyebutkan dalam bukunya al-Siyâsah al-Syar'iyyah bahwa setidaknya ada dua ranah yg kita wajib mengikuti keputusan ulil amri, yaitu sesuatu yg tidak dijelaskan oleh nash agama dan suatu nash yg sifatnya multitafsir[15]. Dan ya, nash tentang penentuan awal bulan masih lah multitafsir, khususnya pada lafal hadis faqdurû lahu. Juga ttg pilihan rukyah lokal, atau rukyah global. Kesemuannya itu insya allah ada landasannya masing-masing, juga dali-dalil yg kuat nan argumentatif. Jika sudah begitu, masihkah kita terus 'mengusahakan perbedaan', saat ulil amri sudah memutuskan utk memilih salah satu pendapat?



Tentang sikap Muhammadiyah, penulis hanya melihat satu sisi positif di dalamnya, yaitu sebagai shock therapy bagi pemerintah yg tetap memegang teguh kriteria MABIMS, walaupun banyak yang telah 'menyerangnya'. Alhamdulillah, usaha untuk meminimalisir perbedaan sedang diupayakan[16]. Tapi lagi-lagi, sikap mengelak utk taat kepada ulil amri sangat penulis sayangkan. Tetap saja kaidahnya adalah حكم الحاكم يرفع الخلاف (keputusan seorang hakim/ulil amri menghapus perbedaan –pendapat-).



Dan akhirnya, penulis mengakhiri tulisan ala kadarnya ini dengan harapan dan doa, semoga ke depan ada kriteria yg dapat diterima oleh semua pihak. Sehingga tidak akan ada lagi perbedaan dlm menentukan awal bulan kamariah di tanah air. Tidak perlu muluk-muluk utk kalender islam terpadu (internasional), mari kita usahakan dulu utk kalender bersama dalam lingkup wilâyatu'l hukmi; Indonesia.





Wallâhu A'lam bi al-Shawâb

Cairo, 24/7/2012





NB:

1- Mohon koreksiannya dari para ahli dan pemerhati ilmu falak.

2- Mohon usahakan utk menuliskan tanggapan dgn ilmu dan etika.



Referensi:

1- Koran al-Liwa al-Islami, edisi kamis 19 juli 2012.

2- Kitab al-Shiyam, Dar el-Ifta el-Mishriyah.

3- Problematikan Penentuan Awal Bulan, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar.

4- Al-Siyasah al-Syariyyah, Yusuf Qaradhawi.





-----------------------------------------------------

[1] http://goo.gl/nScsp ICOP terdiri dari 400 ahli dan pemerhati falak, ia bermarkaz di Abu Dhabi.

[2] NRIAG bermarkaz di Helwan, Kairo. Website: http://www.nriag.sci.eg/ email: info@nriag.sci.eg Tel: +20 002-02-(25541100-25543111-25560046-25560645) Fax: +202 2554 8020.

[3] Durasi terlihatnya hilal, antara sunset dan moonset.

[4] Moonset setelah sunset: Mekah (6 menit), Kairo (2 menit), kota-kota di Mesir selain Kairo (1-5 menit), Legos-Nigeria (18 menit), Daka-Bangladesh (16 menit), Nowakshut-Mauritania (14 menit), Khortoum-Sudan (10 menit), Jakarta (8 menit), Maroko (5 menit), Kuwait/Karachi-Pakistan (1 menit), Riyadh/Abu Dhabi/Muscat-Oman (2 menit), al-Jazair/Damaskus/Palestina (moonset menyertai sunset). Moonset sebelum sunset: Ankara-Turki (5 menit), Teheran (4 menit), Baghdad (2 menit), Tunis (1 menit).

[5] http://goo.gl/PRfK2 s

[6] Penasehat Mufti Mesir.

[7] Dekan Fakultas Dirasah Islamiah di Univ. Azhar, Kairo.

[8] Dosen pengampu materi kebudayaan islam, di fakultas dakwah, Univ. Azhar, Kairo.

[9] Kitâb al-Shiyâm, Dar el-Ifta el-Mishriyah, th. 2010 M, hal. 12. Lebih detil tentang hal ini, baca Problematikan Penentuan Awal Bulan, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, hal. 137.

[10] Lebih detil ttg prosesi rukyah di Helwan ini, dapat dibaca di sini: http://goo.gl/l4fZC

[11] Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, op. cit, hal. 142.

[12] http://goo.gl/iJ8Wy

[13] http://goo.gl/RLPFw

[14] Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, op. cit, hal. 142-148.

[15] Yusuf Qaradhawi, al-Siyâsah al-Syar'iyyah, Maktabah Wahbah, hal. 70.

[16] http://goo.gl/SrZNt

Penulis : Muhamad Rifqi Arriza

Pejuang

Tiap darah yang mengalir di dalam nadi kita punya aliran yang berbeda ; walau nampak sama. Dalam diri seorang pejuang, pemberani, pahlawan ada aliran yang begitu kuat dan begitu cepat – tidak seperti pemalas, penakut yang tak punya getaran itu.

Pejuang akan ada bersama masa yang dilalui – pejuang seorang yang bisa memberikan waktunya lebih dari orang biasa di zamannya. Tapi, banyak di antara kita masih suka mengikuti waktu – berjalan bersamanya – bukan merubahnya melainkan tergelincir karenanya.

Ada yang mengaku pejuang dan ada pula yang tidak merasa sebagai pejuang tapi dia adalah seorang pejuang.
Kita lahir sama seperti orang yang lain – keluar dari rahim seorang ibu. Cuma kita berbeda dari sisi cita cita dan prinsip hidup.

Cita cita bisa merubah semua, cita cita bisa memberikan inspirasi dalam sebuah perjuangan.
Orang tanpa cita cita, Buta. Mimpilah setinggi tingginya- sebab mimpi bukanlah kesalahan.
Tiap kita boleh bermimpi dengan jutaan harapan. Ada orang yang terlena dengan berbagai kemanjaan yang ada disekitarnya, semua serba ada.

Tidak memikirkan orang lain dalam tiap nafasnya, tidak peduli terhadap kemiskinan tetangganya. Itu bukanlah pejuang.

Pejuang selalu memperjuangkan nasib orang miskin – memperjuangkan mimpi yang ada di dalam fikirannya. Pejuang tak akan mati oleh sindiran orang, hinaan orang.

Pejuang akan terus bergerak, tidak hidup statis dengan arah yang sama.
Dia akan merubah zaman, keberadaanya menjadi inspirasi buat yang lain. Pembakar jiwa yang lusuh- penyemangat hati yang mati.

Tapi, pejuang itu tidak banyak.

Kalau kita lihat di sekeliling kita, pejuang itu hanya segelintir orang saja.

Hidup dalam tekanan – hidup dalam ancaman dan hidup penuh ambisius.

Kalau kita lihat sejarah, bagaimana Nabi Muhamad memperjuangkan risalah Islam itu?
Diancam – di siksa – ditawarkan seluruh jabatan istimewa – digoda dengan harta, wanita.
Tapi Nabi terus berada di jalan yang sama – tidak menoleh dan tidak berubah dalam jalannya. Kalau sekarang?!

Perjuangan perlu pengorbanan – perjuangan harus punya semangat yang luar biasa – perjuangan mesti punya cita cita. Jadilah kita pejuang – yang menjadikan zaman ini bergerak dan berputar bersama jalan yang dilalui oleh kita. 

Selamat mencoba.

Oleh: Ekta Yudha Perdana

Jangan Berharap Difahami Orang Lain

Written By Pelatihan blog on Kamis, 03 November 2011 | 14.31

Jangan Berharap Difahami Orang Lain
Muhammad Syafi’i Tampubolon

Ketika aku mendengar sebuah nasyid yang begitu menyentuh dan juga sangat bermasyarkat sekali bahasanya. Dan terkadang itu lebih sering terjadi didalam kehidupan ini melebihi dari makanan pokok seperti nasi. Namun hal itu sering diabaikan oleh orang lain. Lantunan bahasa yang begitu menampar setiap wajah-wajah orang yang selalu merasa benar dengan apa yang ada pada dirinya.

Terkadang banyak manusia yang mengatakan bahwa orang itu tidak benar, dan mungkin ungkapan itu untuk mencari sebuah simpati dari orang lain terhadap dirinya bahwa dirinya adalah yang terbaik dari orang yang ia ceritakan.

Semua orang berharap untuk difahami, tapi kita tidak tahu apakah diri kita dapat memahami orang lain. Terkadang manusia itu lebih sopan dan lebih menghargai orang yang baru ia kenal daripada orang yang sudah ia kenal dan lebih dekat, dan lebih dekat bahasanya mungkin menyia-nyiakan yang sudah ada didepan mata ketimbang yang baru muncul dihadapannya.

Bukan berarti bait-bait nasyid ini lebih berharga daripada bahasa-bahasa Tuhan yang sudah terbukukan didalam sebuah kitab, sebab akan ada orang yang akan beranggapan demikian. Untuk selengkapnya silahkan untuk mendengar nasyid tersebut dibawah ini. Sebelumnya terimakasih banyak atas kesediannya untuk mendengarkan dan terlebih jika mau merenungkannya.


Mahasiswa?

Written By Pelatihan blog on Selasa, 01 November 2011 | 14.17

Pergeseran Paradigma Mahasiswa
Oleh: Muhammad Syafi’i Tampubolon
Zagazig 1 Oktober 2011 pukul 22:00-23:00

Prolog

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan segala karuniaNya kepada kita makhlukNya yang diberikan akal dan hati. Shalawat dan salam mari selalu kita ucapkan dan katakanlah dihadiahkan kepada junjungan alam nabiyullah, rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Semoga dengan semua Shalawat itu kita bisa mendapatkan Syafa’atnya nanti dihari pembalasan, yang mana tidak ada yang berhak pada saat itu memberikan syafaat kecuali beliau. Mari kita doakan para sahabat-sahabat beliau dan juga ahul bait, ulama-ulama yang telah berjuang untuk mencerdaskan ummat-ummat setelah mereka, ya katakanlah seperti masa kita sekarang ini.

Jika kita flash back kemasa baginda rasulullah Muhammad SAW, maka kita akan melihat rumah-rumah yang menjadi kampusnya para sahabat, yang mana rasulullah adalah sang doktor dan mahasiswanya adalah para sahabat. Namun secara insani, pemikiran rasulullah yang berbentuk dari wahyu Allah, yang disampaikan kepada para sahabat selaku mahasiswa yang menuntut ilmu. Bisa juga kita perhatikan bagaimana para sahabat mengkritik dengan cara yang sehat dalam hal berfikir secara manusiawi. Satu contoh bisa kita lihat ketika Umar ra, untuk mengajak rasulullah mendakwahkan islam ini secara terang-terangan, sedangkan pada masa itu rasulullah berdakwah secara sirriyah (Sembunyi-sembunyi). Rasulullah menghargai pendapat Umar dan yang mana nantinya usulan ini diterima oleh rasulullah. Semoga penyampaian yang nantinya ditulis oleh penulis bisa mengarah kepada judul tulisan yang diminta.

Mahasiswa

Apa itu mahasiswa?. Ini adalah pertanyaan yang pertama sekali harus kita jawab. Kemungkinan besar semua orang sudah mengetahui bahwa yang namanya mahasiswa itu adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikannya disekolah menengah atas (SMA/SMU/MAN), dan melanjutkan keperguruan tinggi. Dan mereka yang mengenyam pendidikan diperguruan tinggi disebut dengan MAHASISWA.

Namun penggunaan kata mahasiswa lebih sering digunakan dan lebih bersahabat sekali dan bahkan sudah sangat bermasyarakat dikalangan semua orang jika mereka itu adalah para pelajar yang menggunakan seragam bebas (Versi negara Indonesia). Namun kata Pelajar lebih cenderung digunakan dikalangan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Disini penulis mengatakan hanya seputar Negara Indonesia, namun jika kita lihat di Negara-negara lain akan menggunakan istilah yang berbeda, namun intinya tetap sama tujuannya, sebab sistem yang digunakan itu akan membedakan cara sistematis orang belajar, sebab tidak semua orang IQ nya sama, kadangkala anak SD lebih cerdas dari anak SMA dalam hal berfikir, namun dalam hal pengalaman itu sudah bisa dikatakan anak SMA lebih dahulu makan garam daripada anak SD.

Sebagaimana yang saya sebutkan didalam prolog bahwa pada masa rasulullah sudah terbentuk sistem mengajar dan belajar. Kampusnya adalah rumah-rumah dan masjid, guru atau dosennya adalah rasulullah, Murid atau mahasiswanya adalah para sahabat. Dan hal-hal seperti ini sudah terjadi semenjak Nabi Adam diturunkan kebumi, dosen prianya adalah Adam, sedangkan Dosen wanitanya adalah Hawa, adapun murid dan mahasiswanya adalah anak-anaknya. Begitulah secara turun temurun hingga pada masa kita sekarang.

Kampus

Apa itu kampus?. Hampir semua orang Indonesia mengetahui bahwa kampus itu adalah sebuah gedung permanen tempat berkumpulnya para mahasiswa untuk menuntut ilmu dari orang-orang yang memiliki ilmu, katakanlah itu dosen, doktor atau apalah.

Yang mana nantinya karakter dan cara berfikirnya seseorang itu akan terbentuk dari bi’ah (Lingkungan) kampus tersebut, baik itu secara pribadi maupun secara menyeluruh, dan bahkan secara tidak langsung mahasiswa itu akan terbentuk dengan sendirinya dari sikap dan ajaran para dosennya, dan kemungkinan besar perilakunya juga akan terpengaruh oleh teman-temannya, baik cara berfikir, berpakaian, berjalan dan lain sebagaianya.

Perbedaan Kampus dan Rumah

Kalau ada orang yang melihat hal ini mungkin akan tertawa dan akan sangat bersedih hati, sebab kebanyakan orang tidak mengetahui untuk menempatkan sesuatu itu pada tempatnya, yang mana saya akan mengatakan bahwa sekarang ini kebanyakan bisa dikatakan sudah terbalik, kampus telah berubah menjadi rumah, hanya sedikit saja yang membedakan antara kampus dan rumah, kalau rumah malam hari adalah tempat istirahat, namun kalau kampus di malam hari kosong. Ini saja perbedaannya. Sedangkan masa rasulullah siang malam rumah adalah kampus dan tempat beribadah.

Disisi lain, jika kita perhatikan, kampus ala zaman sekarang adalah ajang untuk ber-pamer ria ala budaya yang masuk dan yang lagi trend, baik itu sikap, pakaian, food, kendaraan, handphone dan lain sebagainya, belum lagi jika kita perhatikan dari sisi buruknya, yang mana hotel biasa digunakan untuk tempat bernafsu ria, namun kampus sudah tidak beda lagi dengan hotel. Dan bahkan tempat untuk ajang ber-mejeng ria kampus adalah tempat paling pas untuk hal itu. Tapi tidak semua kampus mungkin.

Analisa

Bukan saya terlalu menkritisi atau katakanlah terlalu mendahulukan sudut pandang sebelah pihak, sebab orang zaman sekarang mungkin berfikiran bahwa kuliah itu hanya sebatas untuk mengambil title dirinya. Yang mana nantinya title itu seolah-olah akan menunjukkan siapa dirinya dalam hal mencari sesuap nasi. Orangtua zaman sekarang mungkin akan menunjukkan satu kampus atau satu universitas yang bisa memberikan masa depan anaknya dengan iming-iming yang diberikan oleh universitas tersebut. Sehingga akan banyak sekali nantinya universitas-universitas yang bersaing dalam hal pekerjaan dan penempatan mahasiswanya disuatu perusahaan. Hanya satu dua orangtua yang mungkin mau menempatkan anaknya disalah satu universitas Agama, sebab perusahaannya adalah masjid yang penghasilannya tidak menjanjikan.

Flash Back Kezaman Peradaban

Apakah perbedaan zaman dahulu dengan zaman sekarang?. Apakah zaman itu mempengaruhi cara berfikirnya manusia?. Apakah ada perbedaan istilah mahasiswa dulu dengan sekarang?. Tiga pertanyaan yang sangat sederhana dan mudah difahami tentunya.

Zaman dahulu kala ketika rasulullah masih hidup, beliau adalah sosok dari segala sosok, siapa yang tidak mengenal beliau, bahkan Nabi Adam saja sudah kenal dengan beliau, hingga saat ini baik itu muslim dan non muslim, orang paling bodoh sampai paling pintar, dari segala arah penjuru dunia, baik itu dengan segala kelebihan dan kekuranganya pasti mengenal siapa itu rasulullah, minimal pernah mendengar namanya. Rasulullah adalah panutan bagi seorang dosen atau doktor maupun profesor, sebab itu semua ada pada diri rasulullah, rasulullah adalah panutan semua pemimpin negara, sebab itu ada pada diri beliau, dalam segala hal panutan, baik itu contoh seorang pemuda, suami, bapak, bisnismen, pengembala dan lain sebagaianya.

Nah, adapun para sahabat beliau adalah panutan kita sebagai seorang pelajar ataupun mahasiswa. Baik itu secara perangai, tatakrama, cara berfikir, cara belajar dan lain sebagainya yang tentunya tergambar dalam benak kita.

Apakah perbedaan kita selaku mahasiswa dengan para sahabat?. Tentu kita akan mengatakan sangat banyak sekali perbedaannya. Kalau para sahabat sedikit sekali protes kepada gurunya rasulullah SAW, kalau kita?, sedikit-sedikit protes, belum siap dosen berbicara kita sudah protes dan tidak sependapat, dan bahkan mengatakan “Wajarkan beda pendapat?”. Dan bahkan ada murid yang mengatakan bahwa dosen itu bodoh sekali, masa hal begitu saja dia tidak tahu?, percumalah sudah doktor, mending dia berhenti saja sebagai seorang dosen kalau begitu cara berfikirnya. Inilah mungkin yang membedakan kita selaku mahasiswa dengan mahasiswanya rasulullah.

Para dosen mungkin acapkali mengatakan “Wahai para mahasiswa, jaga adab kalian kepada guru, baik dikampus maupun diluar kampus”. Namun dosen tersebut tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang panutan mahasiswa, baik itu dikampus ataupun diluar kampus dikarenkan ulah sanga murid, maka wajar saja tabiat ini akan turun temurun hingga akhir zaman nanti jika murid itu tidak bisa menangkis hal-hal yang datang dari dosennya. Padahal ada nasehat yang sering didengar oleh para mahasiswa yang berbunyi “Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk”, namun yang terjadi adalah sebaliknya, sebab ruh nasehat itu telah hilang seiring berjalannya waktu.

Solusi

Sebenarnya pedoman seorang mahasiswa tidak keluar dari konteks Al Quran dan Sunnah, baik itu Sunnahnya rasulullah dan juga para sahabat. Kita perhatikan bagaimana para sahabat dalam hal menentukan suatu hal yang paling mudah dan hal kondisi yang sangat paling memprihatinkan, contohnya hal yang mudah itu seperti bersiwak, menyingkirkan sesuatu yang dianggap berbahaya ditengah jalan seperti duri, dan berwudhu, adapun hal yang paling memprihatinkan adalah ketika untuk memberikan kehidupan kepada yang lain seperti kisah air yang sedikit. Ini adalah dalam hal berbuat, namun adapun cara berfikir mereka adalah dari hal yang paling mudah hingga hal yang paling rumit. Kalau kita baca sejarah mereka dalam hal menentukan sebuah ketetapan, baik itu secara personal dan kemasyarakatan, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban yang tidak pernah terfikirkan oleh kita sama sekali. Kadalangkala, sesama sahabat selaku mahasiswanya rasulullah tetap ada ditemukan tidak sependapat, artian kata tidak sependapat disini bukan menimbulkan fitnah, sebab kata rasulullah perbedaan pendapat itu adalah rahmat bagi ummatku. Saya fikir, disinilah beberapa point penting yang harus kita ambil untuk membentuk pemikiran kita selaku mahasiswa.

Kesimpulan Dan Epilog

Dalam hal menuntut ilmu selaku seorang mahasiswa tidak harus membedakan ilmu pengetahuan umum dan agama. Jika dikaji ulang maka sebenarnya ilmu agama itu yang lebih didahulukan belajarnya, tidak harus dikampus, sebab dari kecil didikan itu sudah seharusnya diterapkan dengan istilah saya “Kampus ala rasulullah”, jadi, dari kecil saja kita sudah masuk area kampus, adapun untuk hal duniawi, sudah sepatutnya seseorang itu menentukan skill nya ketika masih dibangku SMA, sehingga pada akhirnya akan bersatu dalam dirinya ilmu agama dan ilmu dunia. Cara berfikirnya akan agamis dan cara bekerjanya akan ditentukan oleh skill nya. Namun kemungkinan besar bahwa hal ini hanya satu dua orang yang bisa menerapkannya, sebab bi’ah dan financial tidak bisa dipisahkan.

Hal ini juga akan dibantu sistem penerapannya dengan pendidikan orangtua, katakanlah bahasa kasaranya “Sejauh mana pendidikan orangtua”, jika orang tua tidak punya pendidikan, nisacaya hal ini tidak akan sampai penerapannya kepada anaknya yang bakal jadi mahasiswa yang sebenarnya, sehingga negaranya akan maju dengan cara berfikir yang baik dalam era globalisasi.

Apa yang penulis ungkapkan adalah pengalaman dan pandangan pribadi dalam hal menilai apa yang sedang terjadi sekarang ini pada diri serta cara berfikirnya mahasiswa era moderen sekarang ini. Sebab banyak yang bertitle Ir, SH dan lain sebagainya yang menjadi pengangguran dikarenakan salah niyat, sehingga berefek kepada struktur berfikir yang sedikit melenceng ketika menentukan sebuah universitas untuk membentuk diri dan cara berfikir. Semoga apa yang dituliskan dalam lembaran ini bermanfaat kepada semua golongan. Wallahu ‘alam.
 
Support : Creating Website | Template orang | Galash
Copyright © 2011. Nge-blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Kolish
Proudly powered by Blogger