Latest Post
Tampilkan postingan dengan label muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muallaf. Tampilkan semua postingan
00.52
Stuart Mee, Melakukan Pencarian Agama Selama 3 Tahun
Written By Pelatihan blog on Jumat, 24 Agustus 2012 | 00.52
Satu lagi warga Inggris menganut Islam. Dia adalah Stuart Mee, seorang pegawai negeri sipil. “Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup yang tidak bisa tergantikan dengan harta benda apapun,” katanya.
Pria berusia 46 tahun asal West Reading ini mulai melakukan pencarian agama tiga tahun lalu. Beragam agama yang ada di sekitarnya dipelajari. Namun, hatinya kemudian tertambat pada Islam. “Jauh di lubuk hati saya, saya selalu percaya pada makhluk yang lebih besar, dan Islam mengenalkan konsep Allah,” ujarnya.
Ia rajin mendatangi perpustakaan umum untuk membaca buku-buku keislaman, dan mengenal Islam dari beragam sumber. Sesekali, ia datang ke Masjid di London Tengah untuk sekadar mendengarkan ceramah agama. “Sampai di titik itu, saya makin yakin Islamlah yang saya cari,” kata Mee.
Namun, untuk satu dan lain alasan, ia menyembunyikan keinginannya untuk berislam. Sampai kemudian, ia tak bisa menahannya lagi. “Saya menemukan ‘sesuatu yang hilang dari hidup saya’ — saya tahu ini kalimat yang klise dan usang, tapi itu benar — dan saya memutuskan untuk segera bersyahadat,” katanya.
Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum berislam adalah: ia perlu mempersiapkan diri keluar dari “zone nyaman” yang selama ini memeluknya, dan masuk dalam “wilayah yang belum teruji”. “Ya, saya memiliki kegamangan: Muslim seperti apa? Apakah mereka seperti yang digambarkan dalam berita? Bagaimana dengan wanita dalam Islam? Bagaimana orang di sekitar saya akan membincangkan saya setelah berpindah agama?”
Namun, ia mengaku, “Ada hal yang saya temukan tidak biasa tetapi ini sebanding dengan aspek indah kehidupan Islam.”
Ia pun kemudian mengirimkan email pada seorang imam, menyatakan keinginannya masuk Islam. Tak disangka, emailnya berbalas di hari itu juga. bahkan, mereka sempat melakukan chatting 15 menit terlebih dulu untuk menanyakan kemantapan hatinya.
Ia menyebut, berislam membuat sebuah “perbaikan jangka pendek” dalam hidupnya. “Saya berhenti menjadi seorang pecandu, tidak konsumtif, dan hidup lebih tertata,” ujarnya.
sumber :klik
sumber :klik
Label:
muallaf
10.55
Alexander Husseini, Saya Bangga Menjadi Muslim
Written By Pelatihan blog on Kamis, 23 Agustus 2012 | 10.55
Australia bukanlah negara Islam. Kebudayaan Barat yang dianut Australia pun kerap bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.
Tetapi bagi Alexander Husseini, atau Alex, hal ini tidak membuatnya membatasi pergaulan.
“Islam mengajarkan pemeluknya untuk memiliki karakter yang kuat. Sebagai Muslim, kita harus tunjukkan kalau bertingkah laku yang beradab,” ujarnya.
Usianya masih terbilang sangat muda, 21 tahun. Tetapi justru ia tidak ingin masa mudanya hilang begitu saja. Ia ingin terus teguh memegang keimanannya, sambil berharap bisa membantu orang lain.
Menurut Alex, jika kita mampu berperilaku seperti apa yang sudah diajarkan Islam, maka orang lain akan semakin menghormati kita. Tak jarang, bahkan menjadi panutan bagi yang lain.
Alex sehari-harinya bekerja membantu bisnis keluarganya, yakni sebuah toko keju yang selalu ramai dikunjungi di pasar terkemuka, Queen Victoria Market di Melbourne.
Ia bukanlah termasuk orang yang malu untuk mengakui dirinya adalah seorang Muslim, ditengah pemberitaan soal Islam yang kerap kali terdengar miring. “Saya jelaskan kepada teman yang lain, jika shalat itu adalah untuk membuat rileks setelah berbagai kesibukan. Juga tempat dimana kita berharap dan berdoa pada Sang Pencipta,” kata Alex.
“Mungkin sama saja bagi sebagian yang melakukan yoga, ya itulah shalat bagi saya.”
“Sementara, puasa adalah untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh mereka yang tidak mampu.”
“Bulan Ramadan juga adalah saat yang tepat untuk berbagi. Bayangkan jika kita semua memberikan sumbangan kepada mereka yang membutuhkan, mungkin masalah kemiskinan bisa diatasi,” tambahnya.
Di tengah kesibukannya, ia kerap bermain sepak bola, salah satu kegemarannya.
Tak jarang, beberapa diantara temannya kadang merayakan kemenangan dengan berpesta atau minum alkohol, hal yang dilarang dalam ajaran Islam. “Yang terpenting adalah selalu berperilaku terbaik untuk menjaga moral,” tanggapnya soal bagaimana menolak ajakan dan godaan dari sekitar.
Alex pun merasa beruntung karena ia tidak pernah mengalami diskriminasi atau kekerasan yang berbau suku dan agama.
Menurutnya, warga Australia tidak akan langsung begitu saja dalam menghakimi atau menilai seseorang. “Di sini orang akan menilai kita secara bertahap, karenanya jika kita terus menunjukkan yang akhlak yang terbaik, maka orang pun akan sungkan menuduh kita macam-macam.”
Alex memiliki harapan dan mimpi besar bagi Australia. “Kita antar umat beragama sebenarnya bisa mudah bersatu karena ada kesamaan.”
“Kesamaan ajarannya adalah selalu ingin membantu orang yang kesusahan, membantu yang sakit, misalnya,” tambahnya. “Jika ini yang dipersatukan, maka akan sangat bermanfaat dan berguna untuk orang lain”
sumber :klik
Label:
muallaf
20.35
Dianne Breslin: Islam Menjawab Semua Pertanyaanku tentang Tuhan
Written By Pelatihan blog on Selasa, 21 Agustus 2012 | 20.35
Dianne Charles Breslin dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Ayahnya seorang misionaris. Bahkan, dua orang bibinya biarawati.
Dianne sendiri menghabiskan pendidikannya di sekolah gereja. “Aku dikelilingi doktrinasi soal trinitas. Sepanjang hari, aku melihat salib, para suster, patung Yesus dan Bunda Maria,” tuturnya kepada Islam Religion.
Hingga memejamkan mata, Dianne tiada henti memikirkan konsep trinitas. Konsep yang menjadi titik awal keraguannya dalam mendalami ajaran Kristen. “Yang ada dalam pikiranku, kadang aku tidak berdoa untuk Tuhan yang sebenarnya. Aku berdoa kepada sosok yang mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membantuku,” kata dia.
Dianne merasa ragu, setiap kali berdoa dan menyebut nama Bapa, anak dan roh kudus, ia tidak dapat meyakinkan diri apakah doa itu sampai kepada yang Mahakuasa. Ia tidak tahu di mana Tuhan sebenarnya. Ia hanya mengucapkan apa yang diajarkan padanya sedari kecil.
Di ulang tahunnya yang ke-12, sang bunda memberikan Dianne sebuah Alkitab. Sebagai penganut Katolik, ia tidak diperkenankan untuk membaca apa pun selain Katekimus Baltimore.
Namun, Dianne tak mematuhi keharusan tersebut. Ia membaca buku lainnya dengan harapan dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal hatinya. “Aku tahu betul, buku yang wajib dibaca itu sangat berbelit dan sulit dipahami,” ujarnya.
Memasuki usia 20 tahun, Dianne mulai membaca literatur agama lain seperti Hindu dan Buddha. Namun, ia merasa tidak tertarik dengan ajaran-ajarannya. Menurut Dianne, kedua agama itu terlalu eksotis dan tidak memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaannya. “Dalam hal ini, aku coba maksimalkan naluriku untuk mencari kebenaran,” tuturnya.
Lulus kuliah, Dianne melanjutkan studinya ke jenjang S2. Saat itulah, ia pertama kali mendengar tentang Al-Quran.
Seperti kebanyakan warga AS, Dianne tahu Al-Quran itu identik dengan imigran Arab. Dalam bayangannya, imigran Arab itu tak lebih dari sosok misterius yang berusaha merusak peradaban Barat.
“Secara spesifik, aku tidak pernah mendengar tentang Islam. Aku gambarkan imigran Arab itu bermuka masam, memiliki unta dan menetap di padang pasir,” tuturnya.
Studi yang ia tempuh mengharuskan Dianne untuk mempelajari agama lain. Ketika itulah, muncul kembali pertanyaan dalam dirinya. Ia bingung, mengapa Yesus dari Nazareth memiliki mata biru.
Ia coba simpulkan sendiri dengan pengetahuan yang didapat. Hasilnya, Dianne merasa ada sesuatu yang luput. “Melihat sejarah perang Arab-Israel tahun 1967, aku merasa bersimpati dengan bangsa Arab. Walau aku tak tahu alasannya. Ketika memeluk Islam, aku baru sadar, bahwa mereka (Arab) saudara seimanku,” kata dia.
Di usia 35 tahun, Dianne mulai bersinggungan dengan Al-Quran. Itu pun hanya untuk keperluan tugas kuliah. Ia buka Al-Quran, dan membaca Surah Al-Mu’minun ayat 52-54:
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.”
Menurut Dianne, ayat yang ia baca ini mengandung kebenaran yang jelas dan kuat. “Sungguh menyedihkan, ketika manusia menolak kebenaran dan terlibat dalam persaingan yang sia-sia. Di sini aku melihat bangsa, kebangsaan, budaya dan bahasa yang beragama itu pada dasarnya hanya menyembah satu Tuhan, pemilik semesta raya,” kata dia.
Kekagumannya pada ayat Al-Quran belum cukup membuat dirinya meninggalkan agama Kristen. Namun, dalam diri Dianne masih terdapat pergulatan batin yang begitu dahsyat. Ia merasa, Bunda Maria, nama yang ia sering sebut saat berdoa, merupakan sosok yang malang. Perempuan itu difitnah lantaran penafsiran keliru.
“Ibuku selalu mengatakan agar aku berdoa kepadanya. Tapi aku paham, orang tuaku sepertinya tidak sadar kalau sebenarnya Maria diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk menanggung fitnah itu. Tuhanlah yang menciptakan Maria, maka kepada Tuhanlah seharusnya seseorang memohon pertolongan,” kata dia.
Dianne mengatakan Yesus, atau Isa dalam bahasa Arab tidak pernah sekalipun mengaku sebagai anak Tuhan. Sebaliknya, ia berulang kali menyebutnya sebagai pembawa pesan. Lagi-lagi, Dianne kembali bingung.
Menurut logika Dianne, pernyataan itu sudah cukup untuk memastikan bahwa Yesus adalah Nabi. “Ia datang atas perintah Tuhannya. Posisinya serupa dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia ajak untuk kembali pada-Nya, tempat di mana setiap manusia akan kembali,” kata dia.
“Tidak ada masalah dengan perbedaan fisik di antara mereka. Entah Arab, Yahudi, Kaukasus, bermata biru atau coklat, rambut panjang atau pendek. Semua perbedaan itu jelas tidak relevan atas kehadiran mereka sebagai pembawa pesan Tuhan,” paparnya.
Setiap kali memikirkan Yesus—dan setelah ia mengetahui tentang Islam—Dianne merasa ada benang merah yang kuat bahwa Yesus adalah seorang Muslim, seorang hamba yang tunduk kepada Tuhan yang Mahakuasa. “Dalam sepuluh perintah Tuhan disebutkan, Akulah Tuhan, Allahmu, jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.”
Sementara, lanjut Dianne, dalam Alquran disebutkan dalam Surah Maryam ayat 88-90, “Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah-belah, dan gunung-gunung runtuh.”
Menurut Dianne, jika setiap orang mengetahui makna La Ilaha Illallah (tiada tuhan selain Allah) maka dapat diketahui persamaan dalam kedua ayat dari kitab tersebut. Namun, distorsi penafsiran membuatnya berbeda. “Sudah sewajarnya distorsi ini diakhiri,” kata dia
Butuh tiga tahun bagi Dianne untuk mendalami Al-Quran sebelum dirinya untuk menyatakan diri menjadi Muslim. Tentu, ia merasa khawatir dengan perubahan yang akan dialaminya, seperti tidak diperbolehkannya seks bebas dan konsumsi minuman keras. “Musik dan dansa bagian dari hidupku. Bikini dan pakaian serba minim merupakan favoritku,” kenang Dianne.
Lantaran merasa ragu, Dianne mencoba untuk menyambangi Islamic Center, yang jaraknya satu jam dari tempat ia tinggal.
Setibanya di masjid—saat itu tengah berlangsung pelaksanaan shalat Jum’at—tidak ada yang bersedia untuk menemui Dianne. Itu karena, Dianne dianggap sebagai mata-mata.
Di tengah fase akhir, Dianne mengalami cobaan. Ayahnya meninggal karena kanker. Ia berada di sisi ayahnya hingga malaikat mau mencabut nyawa. Ia menangis dan takut. Momentum itu membuat Dianne tak sabar untuk memeluk Islam.
Ia pergi ke Mesir setelah kematian ayahnya. Di Negeri Fir’aun itu ia menemukan kebenaran yang ia cari; Tuhan yang satu, kekal abadi, yang tidak pernah dilahirkan ataupun memiliki anak.
“Dalam Al-Quran disebutkan, orang-orang yang terbaik adalah orang-orang yang shaleh. Sebelum anda menjadi shaleh, anda harus mencari siapa Tuhan itu,” kata Dianne yang segera belajar bahasa Arab guna mempermudah dirinya mengkaji Al-Quran.
Dianne mengaku semenjak ia mempelajari Al-Quran, ia tidak lagi ingin mengejar kemewahan dunia. Hobi belanja yang biasa ia lakukan mulai dikurangi. Ia pun ikhlas bila teman dan keluarga meninggalkannya karena statusnya sebagai Muslim. “Jika Tuhan memilih untuk membawa mereka pada Islam, maka jadilah. Tapi aku tahu, bahwa Tuhan memberi apa yang dibutuhkan, tidak kurang dan lebih.”
Kini, ia telah menjadi Muslim. Namun, ia tidak egois. Ia tak ingin menikmati sendiri hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan padanya. Ia mengharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberikan hidayah serupa kepada masyarakat Amerika Serikat.
Dianne mengatakan masyarakat Amerika Serikat sudah terlalu stres dengan situasi duniawi. Sudah saatnya mereka untuk menuju kebenaran hakiki, kebenaran yang selama ini dihina, ditolak dan diacuhkan.
“Aku peduli dengan masa depan Amerika Serikat. Aku berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga Amerika Serikat untuk menerima pesan dari keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara sederhana,” pungkasnya.
sumber :klik
Label:
muallaf
01.25
Maurice Bucaille, Meneliti Mumi Fir'aun dan Memutuskan untuk Masuk Islam
Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.
Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.
Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.
Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.
Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.
Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.
Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.
Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?
Prof. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.
Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.
Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.
Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.
Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.
Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.
Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.
Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”
Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.
Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.
Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.
Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.
Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).
Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.
Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.
Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.
Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.
sumber : klik
sumber : klik
Label:
muallaf
03.48
Molly Carlson, Mengenal Islam Lewat Buku dan Mimpi
Written By Pelatihan blog on Senin, 20 Agustus 2012 | 03.48
Molly Carlson tak menduga sebuah buku fiksi yang dibacanya di masa kecil akan membuatnya mengenal Islam. Selanjutnya perkenalan itu secara tidak sadar membekas di hatinya.
Membuatnya diam-diam meyakini Islam sebagai agama yang paling benar. Bahwa semua doa, pelayanan, dan salib yang disilangkannya dengan jari di dadanya, hanyalah sebuah kegiatan yang selama ini tak menyentuh hatinya.
“Saya tidak ingat berapa umur saya ketika membaca buku itu, tapi saya ingat betul satu adegan di buku itu yang membuat saya mengenal Islam dan mempertanyakan identitas saya sebagai Katolik,” ujarnya. Itu adalah buku King of the Wind karangan Marguerite Henry. Buku itu menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang berasal dari Maroko dan kudanya.
Sementara adegan yang dikenang Molly adalah ketika anak tersebut dikisahkan berpuasa saat Ramadhan. “Entah mengapa setelah membaca kisah tersebut, hati saya tiba-tiba tergerak,” katanya. Sejak itu, dia mulai tertarik terhadap Islam. Rasa penasaran menuntunnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan agamanya saat itu.
Lalu beberapa mimpi menuntunnya untuk mengenal Islam lebih dalam. “Pada umur 12 tahun saya mendapatkan mimpi misterius yang tidak benar-benar saya mengerti. Tidak menakutkan, namun mimpi itu seperti merefleksi hati saya ketika itu,” ujarnya. Di mimpi itu, Molly berdiri di sebuah ruangan kotak yang dindingnya terbuat dari kayu dan memiliki karpet berpola di lantainya. Ruangan tersebut diterangi oleh lentera.
Molly berdiri di tengah ruangan tersebut. Di sebelah kirinya terdapat sebuah pintu kayu berukir untuk masuk ke ruangan lainnya. Meskipun terpisah pintu, namun dalam mimpi tersebut Molly melihat banyak perempuan di dalam ruangan tersebut. Mereka semua menggunakan hijab. Sementara ruangan tempat dia berdiri saat itu adalah ruangan yang dipenuhi laki-laki.
Di dalam mimpi itu, Molly sadar bahwa apa yang dilakukannya salah. Bahwa seharusnya dia tidak berada di ruangan tersebut. Bahwa seharusnya dia bergabung dengan para perempuan di ruangan sebalahnya. Dalam mimpi itu pula dia menyadari keberadaan sebuah kekuatan besar yang dipahaminya sebagai sosok Tuhan. Namun Dia merasa kecewa kepada Molly karena berada di ruangan tersebut. Entah mengapa, mengetahui hal tersebut, Molly merasa sangat sedih. Mimpi tersebut membuat Molly kecil semakin bertanya-tanya.
***
Di lain waktu, mimpi lain menyerbunya. Saat itu, Molly telah cukup dewasa untuk membuat keputusan atas dirinya. Dalam mimpi tersebut, Molly melihat seorang perempuan berdiri di sebelahnya. Perempuan itu menggunakan hijab hitam yang menutup tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang ninja. Molly hanya bisa melihat mata perempuan itu.
Dia merasa takut melihat sosok tersebut, namun lalu memberanikan diri untuk mendekat kepada perempuan tersebut. Dia melihat mata perempuan tersebut lebih seksama. Dia terkejut mengetahuo bahwa perempuan yang berada di depannya itu adalah dirinya sendiri. “Saya bisa tahu dari mata itu. Itu mata saya. Kami seperti cermin. Sejenak saya berpikir bahwa mimpi tersebut adalah masa depan saya kelak,” ujarnya.
Kejadian demi kejadian tak lantas membuatnya sebagai muslim. Eksplorasinya tentang Islam yang lebih mendalam baru dilakukan setelah peristiwa 9/11. “Saat itu saya sedang menempuh semester pertama saya di kuliah. Saya berusia 18 tahun,” katanya. Ketika peristiwa itu terjadi, Molly memiliki sejumlah teman dekat yang beragama Islam. Namun selama ini, pertemanan mereka tidak banyak menyinggung soal agama. “Kami tidak membahas tentang agama setiap kali bertemu. Mereka tidak pernah mempertanyakan keyakinan saya dan tidak pernah memaksakan keyakinan mereka kepada saya,” katanya.
Sayangnya peristiwa tersebut telah menyebarkan kebencian terhadap muslim. Namun tidak demikian dengan Molly. Penilaiannya tentang teman-temannya itu tidak berubah. Mereka tetap menjadi sahabat baik bagi Molly. Tak ada kebencian yang ada adalah simpati. Bukan pada korban yang meninggal karena peristiwa tersebut, namun pada teman-temannya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu tetap dihakimi hanya karena mereka muslim.
“Saya tidak tega melihat teman saya diperlakukan tidak baik pasca kejadian tersebut. Saya sudah mengenal mereka sejak lama. Mereka orang yang sangat baik. Bukan teroris ataupun ekstremis,” ujarnya.
Suatu kali, Molly pernah meminjam hijab, abaya, dan niqab milik seorang temannya dan datang ke kampusnya dengan penampilan tersebut. Hal tersebut dilakukannya hanya untuk mencari tahu bagaimana rasanya menjadi mereka. “Kenyataannya saya benar-benar diperlakukan secara berbeda. Perlakukan yang keras bahkan membuat saya menangis,” ujarnya.
Perlakukan tersebut tak menyurutkan keputusannya untuk memeluk Islam di kemudian hati. Pada 2005, ketika usinya 22 tahun, di ruang tamu sebuah keluarga Muslim kenalannya, Molly membaca syahadat.
“Saya masih ingat betul perasaan saya saat itu. Saya merasakan tangan Tuhan merangkul saya dan mencabut dosa saya serta membuat saya menjadi orang yang baru,” katanya. Sejak saat itu, Molly tidak pernah melihat ke belakang. “Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menemukan lebih banyak arti dan kesenangan dalam hidup saya setelah menjadi muslim,” ujarnya.
sumber :klik
Label:
muallaf
19.48
Mohammad Asad, Islam itu Laksana Sebuah Bangunan yang Sempurna Segala-galanya
Written By Pelatihan blog on Jumat, 17 Agustus 2012 | 19.48
Pada tahun 1922 saya rneninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.
Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik
Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.
Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan gerak dan maju, di kalangan orang Islam telah berubah menjadi kemalasan dan kemandegan. Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan kemurahan hati dan kesiapan berkorban, di kalangan muslimin sekarang telah berubah menjadi kesempitan berpikir dan senang kepada kehidupan yang mudah, sehingga saya benar-benar bingung memikirkannya, keadaan yang sangat bertentangan antara kaum muslimin dahulu dan kaum muslimin yang sekarang.
Hal inilah yang telah mendorong saya untuk lebih mencurahkan perhatian terhadap persoalan yang rumit ini. Lalu saya mencoba menggambarkan seolah-olah saya sungguh-sungguh merupakan salah seorang anggota masyarakat Islam. Hal itu merupakan percobaan ilmiah murni yang telah memberikan kepada saya dalam waktu yang singkat tentang pemecahannya yang tepat.
Saya telah dapat membuktikan bahwa satu-satunya sebab kemunduran sosial dan budaya kaum Muslimin sekarang ialah karena mereka secara berangsur-angsur telah meninggalkan semangat ajaran Islam. Islam masih tetap ada, tapi hanya merupakan badan tanpa jiwa. Unsur utama yang dahulu pernah tegak berdiri sebagai penguat dunia Islam, sekarang justru menjadi sebab kelemahannya. Masyarakat Islam sejak mulai berdirinya telah dibina atas dasar keagamaan saja, dan kelemahan dasar ini tentu saja melemahkan struktur kebudayaan, bahkan mungkin merupakan ancaman terhadap kehancurannya sendiri pada akhirnya.
Semakin saya mengerti bagamana ketegasan dan kesesuaian ajaran Islam dengan praktek, semakin menjadi-jadilah pertanyaan saya, mengapa orang-orang Islam telah tidak mau menerapkannya dalam kehidupan yang nyata? Tentang ini saya telah bertukar pikiran dengan banyak ahli pikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan pegunungan Parmir di Asia tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab. Suatu soal yang hampir selalu menguasai pikiran saya melebihi pemikiran tentang lain-lain kepentingan dunia Islam. Soal ini tetap menjadi titik berat perhatian saya, sampai akhirnya saya, seorang yang bukan Muslim, berbicara terhadap orang-orang Islam sebagai pembela agama Islam sendiri menghadapi kelalaian dan kemalasan mereka.
Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 di pegunungan Afganistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya: “Tapi Tuan adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya.” Saya sangat kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-diam saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke Eropa pada tahun 1926, saya pikir satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah saya harus memeluk agama Islam. Hal itulah yang telah menyebabkan saya menyatakan ke-Islam-an saya, dan sejak itu pulalah datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi: “Mengapa engkau memeluk Islam? Apanya yang telah rnenarik engkau?”
Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam yang telah merebut hati saya, sebab Islam itu adalah satu keseluruhan yang mengagumkan; satu struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih nnenarik perhatian saya.
Dalam pandangan saya, Islam itu adalah laksana sebuah bangunan yang sempurna segala-galanya. Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang mutlak sempurna dan perpaduan yang kuat.
Mungkin kesan saya bahwa segala sesuatu dalam ajaran Islam dan teori-teorinya itu tepat dan sesuai, telah menciptakan kekaguman yang amat kuat pada diri saya. Mungkin memang demikian, mungkin pula ada kesan-kesan lain yang sekarang sulit bagi saya menerangkannya. Akan tetapi bagamanapun juga hal itu adalah merupakan bahan kecintaan saya kepada agama ini, dan kecintaan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam sebab; bisa merupakan perpaduan antara keinginan dan kesepian, bisa merupakan perpaduan antara tujuan yang luhur dan kekurangan, dan bisa merupakan perpaduan antara kekuatan dan kelemahan.
Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hati saya, laksana seorang pencuri yang memasuki rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya, tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi. Sejak itu saya telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat saya pelajari tentang Islam. Saya telah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. Saya pelajari bahasa agama Islam berikut sejarahnya, dan saya pelajari sebahagian besar buku-buku/tulisan-tulisan mengenai ajaran Islam dan juga buku-buku/tulisan-tulisan yang menentangnya.
Semua itu saya lakukan dalam waktu lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga saya bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan kaum Muslimin dari berbagai negara, dimana saya dapat membandingkan beberapa pandangan keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.
Semua pelajaran dan perbandingan itu telah menanamkan kepuasan dalam hati
saya, bahwa Islam sebagai satu keajaiban rohani dan sosial masih tetap tegak, walaupun ada kemunduran-kemunduran yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan kaum Muslimin sendiri. Sebegitu jauh Islam masih tetap merupakan kekuatan terbesar yang pernah dikenal ummat manusia. Dan sejak waktu itu perhatian saya tumpahkan untuk mengembalikan agama ini kepada kejayaannya semula.
sumber :klik
Label:
muallaf
00.13
Jeremy Boulter: Allah Itu Maha Perkasa, Tak Butuh Perantara
Written By Pelatihan blog on Kamis, 16 Agustus 2012 | 00.13
Dalam beragama Jeremy Ben Royston Boulter, seorang penganut Katolik, berkeyakinan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.
Dan sebaliknya, manusia tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan-Nya. Prinsip itu ia jaga saat mencari kebenaran hakiki.
Jeremy dilahirkan memang dilahirkan dalam keluarga Katolik. Akan tetapi ia tidak memercayai Yesus sebagai Tuhan, dan Maria sebagai Ibu Tuhan. Menurutnya, Yesus dan Bunda Maria hanyalah penghubung Sang Pencipta.
“Saya merasa frustasi dengan Perjanjian Lama. Terlalu banyak kejanggalan. Misalnya saja, Tuhan menganggap Yerusalem sebagai istrinya, dan apa yang dipercaya membuat keduanya berposisi sejajar. Tetapi, Tuhan memanggilnya pelacur, dan memintanya agar bertobat. Bagaimana ini?” kata dia.
Jeremy menduga Alkitab merupakan dalih gereja untuk tujuan tertentu. Merasa tak menerima logika yang dibangun Alkitab, ia memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol. Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli.
“Dari apa yang saya baca, saya melihat upaya gereja menahan dan menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Saya percaya Tuhan versi Alkitab adalah palsu, dirancang untuk membohongi banyak orang demi kekuasaan,” ucapnya.
Dalam pemahaman Jeremy, Tuhan versi Alkitab adalah sosok yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Ia membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya. Jadi, Jeremy sulit menerima logika ini.
Pemahaman itu kian menguat ketika ia banyak membaca fiksi ilmiah dan teori konspirasi primitif. Menurutnya, pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) membuka pikirannya bahwa ada semacam konpirasi yang dilakukan kalangan elit dan pemerintah terhadap masyarakat awam.
Namun, tidak setiap negara dan pemerintahan terlibat dalam konspirasi besar. “Saya membutuhkan perbandingan guna mendapatkan kesimpulan yang pasti. Maka saya jadikan Hindu dan Buddha sebagai bahan perbandingan,” kata dia.
Jeremy mulai mempelajari Hindu. Ia ikuti ritual dalam agama tersebut seperti meditasi. Selama meditasi ia merasa tenang, tapi ketika bicara bagaimana dunia dan manusia tercipta, ia merasa aneh.
“Mereka bicara tentang kosmos, evolusi dan reinkarnasi. Jelas, saya segera meninggalkan agama ini,” tuturnya.
Usai mendalami ajaran Hindu, ia eksplorasi ajaran Buddha. Dalam kepercayaan Buddha, Jeremy menyimpulkan, setiap manusia mencari pencerahan dan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Pencerahan ini meniadakan ego. “Saya melihat agama ini lebih banyak bicara filsafat,” kata dia.
Jeremy menyimpulkan ajaran Budha seperti konsep dalam pemikiran Karl Marx. Menurut Marx, agama itu adalah candu bagi masyarakat. Karena sifat candu itu, mereka (umat beragama) dikendalikan oleh kelompok elit dalam masyarakat.
Merasa telah memahami ajaran Buddha, ia dalami Toteisme. Jeremy perlu melihat sistem kepercayaan kuno ini guna menarik benang merah dari proses beragama di dunia. Dalam Totemisme, semua hal memiliki penghubung.
Dalam buku James Lovelock, The Revenge of Gaia, disebutkan bahwa bumi adalah sosok yang harus dihormati, mampu membimbing dan melindungi manusia. Namun bagi Jeremy, bumi itu terlalu sempit. Sebab, di luar bumi terhadap langit yang begitu luas.
Guna mendapatkan esensi “penghuni” langit. Jeremy banyak membaca tentang astrologi. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk. “Untuk sementara, saya menjadi peramal amatir,” ujarnya sembari tersenyum.
Suatu ketika, Jeremy bertemu dengan seorang pria. Ia tak ingat siapa namanya. Yang pasti, pria itu berasal dari Irlandia, penganut Katolik Roma. Ketika bertemu dengannya, Jeremy tengah membaca buku karya Stewart Farrar, Omega. Sepanjang hari mereka berdua berbicara panjang lebar tentang konsep Tuhan.
Pria Irlandia itu setuju dengan pemahaman Jeremy soal kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Jeremy berpendapat segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring sejalan dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan Mahadahsyat.
Di tahun pertama penikahannya dengan Anabela, perempuan Portugis penganut Katolik, Jeremy berteman dengan pria pecinta alam.
Suatu hari, Jeremy dan istrinya diajak pria itu mengunjungi tempat favoritnya. Jeremy dan istri sengaja membawa anak mereka, Andrei Micael guna menjalani pembaptisan.
“Saya tidak ingin anak saya dibaptis dengan air suci oleh pastor. Saya memilih untuk membaptisnya dengan air sungai, serupa dengan apa yang dialami Yohannes. Kala itu, ia dibaptis dengan air suci sungai Yordan,” ujarnya.
Dalam hatinya, Jeremy merasa aneh dengan konsep baptis. Sebab, ia meyakini bahwa setiap anak yang lahir ke dunia pada dasarnya tidak membawa dosa apa pun. Sebaliknya, orang dewasalah yang seharusnya dibaptis lantaran terlalu banyak melakukan perbuatan dosa.
Usai membaptis anaknya, Jeremy dan keluarga kecilnya kerap dikunjungi ibu mertua setiap musim panas. Seperti istrinya, ibu mertua Jeremy merupakan penganut Katolik Roma. Ia seorang yang antusias dengan konsep trinitas. Hal itu terlihat dari kalung salib yang sering ia gunakan. Sang ibu mertua juga rutin menyambangi tempat-tempat suci.
“Bagi saya, apa yang diperlihatkan ibu mertua adalah hal yang aneh dan menjijikkan. Ia masih saja menerapkan konsep primitif. Sudah jelas, Tuhan itu perkasa. Dari situ, saya bertekad membujuk ibu mertua untuk tidak lagi bertuhan pada sosok yang masih tergantung oleh mediator,” ungkap Jeremy.
Pikiran Jeremy segera terbang menuju alam logika. Apa yang ditunjukkan ibu mertua, memicu dirinya untuk kembali mengasah kemampuan berpikirnya. “Saya selalu berpikir, bagaimana orang mati apakah masih bisa mendengar? Bagaimana kita tahu tingkat kesalahan mereka? Banyak pertanyaan dalam otak saya. Spontan saja, saya ambil Alkitab,” tuturnya.
Usai membaca Alkitab, Jeremy menyimpulkan, Tuhan membawa umat Yahudi keluar dari Mesir, melepaskan mereka dari perbudakan. Karena itulah, Tuhan melarang umat Yahudi untuk bertuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak bertuhan pada patung berhala atau mahkluk Tuhan yang hidup di langit dan bumi.
Menurut Jeremy, jika itu benar, maka akan banyak bukti bahwa Allah itu satu. Hanya Dia yang bisa mendengar setiap harapan dari umat manusia. “Saya semakin menyadari bahwa apa yang dikatakan Alkitab bertentangan dengan ajaran gereja. Jelas, Alkitab mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu. Saya merasa takut, bahwa saya benar,” ujarnya.
Sejenak pemikiran kritis Jeremy teralihkan dengan persoalan keuangan keluarga. Semenjak putranya lahir. Kebutuhan terus meningkat. Celakanya, pendapatan Jeremy tak kunjung bertambah.
Pada periode inilah, ia mulai menerima cobaan dari Yang Mahakuasa. Cobaan itu sejatinya akan membawa Jeremy pada kekuatan Tuhan seperti apa yang ia yakini selama ini.
Jeremy mulai terjerat utang. Itu terjadi karena ia memutuskan keluar dari pekerjaannya di British Council dan sekolah bahasa di Braga. Alasannya, ia ingin fokus membesarkan putranya. Guna mengimplementasikan niatan itu, ia putuskan membeli rumah karena enggan menetap di apartemen sewa.
Ia sadar bahwa kondisi keuangannya tidak memungkinkan. Oleh sebab itu, ia nekad memijam uang di bank guna membeli rumah dan membuka bisnis kecil-kecilan sebagai guru les bahasa Inggris.
Perlahan tapi pasti, usahanya itu merangkak naik. Sedikit demi sedikit, utangnya berkurang. Tapi Jeremy merasa butuh pemasukan lebih besar. Oleh istrinya, ia disarankan untuk mencari pekerjaan di luar negeri.
Kebetulan, Anabela memiliki banyak kenalan suami teman-temannya yang mencari nafkah di luar negeri. “Saya melihat hanya itu peluang untuk hidup lebih baik,” kata Jeremy.
Suatu malam, Jeremy berlutut menghadap ke timur. Ia curahkan masalah yang ia hadapi kepada Sang Khalik. “Saya katakan pada-Nya, saya merasa putus asa. Saya merasa kesulitan memberi nafkah istri dan anak. Saya meminta pertolongan-Nya. Selama itulah, saya merasa nyaman, dan akhirnya terlelap dalam tidur,” kenangnya.
Keesokan hari, Jeremy menerima kejutan. Dalam kolom surat kabar hari itu, terdapat lowongan pekerjaan di tempat kerjanya yang lama. British Council membutuhkan tenaga untuk ditempatkan di luar negeri. Melihat iklan itu, Anabela menyarankan suaminya agar bekerja di Timur Tengah. Di kawasan itu, menurut pemikiran Anabel, suaminya bakal mendapatkan gaji relatif tinggi.
Awalnya, Jeremy memilih Taiwan. Sayang, ia gagal mendapatkan posisi itu. Dari pilihan yang ada, tersisa Universitas Arab Saudi. Tak disangka, Jeremy diterima untuk mengajar bahasa Inggris. “Segala puji bagi Allah. Ia menjawab doaku. Tapi itu barulah awal, karena Allah memberikan sesuatu yang lebih padaku,” tuturnya.
Jeremy akhirnya berangkat menuju Teluk. Oleh teman-temanya, ia diperingati bahwa di negara itu, Arab Saudi, ia tidak bebas melakukan apa pun.
Bahkan ada koleganya yang menasihati Jeremy agar mengurungkan niatnya itu. “Saya mencoba untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan teman-teman. Saya hanya fokus memikirkan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru,” paparnya.
Benar saja, apa yang diungkapkan teman-temanya itu tidak sesuai fakta. Tiba di bandara, ia disambut dengan hangat. Jeremy memberi poin khusus untuk sambutan ramah tersebut. Awalnya, Jeremy belum merasa tertarik untuk segera mencari tahu seperti apa budaya masyarakat Arab.
Perwakilan kampus segera menjemput dan membawanya. Namun, ia terlebih dahulu harus melalui pemeriksaan paspor dan mengisi formulir kedatangan. Lalu, ia dikirim ke kepala Departamen Bahasa Inggris. Ketika masuk ruangan, ia berhadapan dengan pria berjubah, layaknya pakaian yang dikenakan pria Saudi.
“Ia tidak terlihat seperti orang Arab. Ia pasti merasa tidak nyaman dengan tatapan mataku. Ternyata ia berasal dari Wales, tapi ia telah menjadi Muslim saat bekerja di Brunei, sebelum pindah ke Arab Saudi,” kata Jeremy.
Oleh pria itu, Jeremy diminta untuk beradaptasi selama lima hari sebelum ia resmi mengajar. Lalu, ia diantar menuju rumahnya. Selama perjalanan itu, ia teringat betul pertemuan dengan pria itu. Ingatan itu kembali mendorong Jeremy untuk kembali ke alam logika. Kemampuan berpikirnya kembali diuji.
Jeremy mulai menyadari bahwa Injil dan Taurat saling berhubungan. Tapi ia belum sepenuhnya membaca kitab lain, seperti Talmud, dan Al-Quran. Entah mengapa, ia merasa asing dengan kedua kitab itu. Terlebih, kedua kitab itu menggunakan bahasa berbeda dengan kitab yang pernah ia baca.
Tapi ia tidak menyerah, ia cari kedua kitab itu dalam terjemahan bahasa Inggris. “Saya menuju pusat kota untuk mencari terjemahan itu. Saya menuju bangunan bertingkat di kawasan Ha’il. Lalu saya menemukan bangunan bertingkat bernama Al-Bourj. Di bangunan itu, saya melihat semua toko ditutup pada sore hari,” tuturnya.
Gagal menemukan apa yang ia cari, Jeremy kembali untuk mencari kitab terjemahan itu. Sayang, tak satu pun dari mereka yang memiliki kitab terjemahan. Ia kembali menuju Al-Bourj, kali ini ia beruntung toko yang dicari tidak tutup. Yang membuatnya terkejut, pengunjung toko kebanyakan berasal dari Asia Tenggara dan Oseania.
Namun, Jeremy tetap saja tidak dapat menemukan buku dicari. Merasa frustasi, ia keluar sejenak dari toko. Di luar toko buku, Jeremy melihat ada anak tangga. Ia bermaksud mencari tempat membaca. Kemudian, ia bertemu dengan petugas polisi.
Oleh polisi itu, Jeremy diarahkan ke sebuah ruangan baca. Memasuki ruangan itu, Jeremy melihat rak berisi buku usang. “Saya merasa putus asa dengan apa yang saya alami. Saya sulit menemukan buku dalam bahasa Inggris,” kenangnya.
Beruntung, ada salah seorang staf British Council yang menemukannya. Jeremy lalu meminta bantuan staf itu untuk membimbingnya menemukan buku yang ia cari. Selang beberapa saat, pria berjanggut datang menghampiri Jeremy. “Saya menyapanya, dengan mengatakan saya ingin membaca Al-Quran,” kata Jeremy, yang selanjutnya terlibat diskusi dengan pria tersebut.
Pria berjanggut itu membawa buku tebal dengan sampul mengilap. Pria itu lalu mengatakan pada Jeremy bahwa buku ini bukan terjemahan, melainkan penjelasan dari setiap ayat Al-Quran dalam bahasa Inggris.
“Saya kembali bingung. Saya mengulangi permintaan sebelumnya. Saya ingin terjemahan. Tapi ia ngotot bahwa itu adalah terjemahan,” kata Jeremy. Akhirnya, ia menerima buku itu, meski sedikit jengkel.
Jeremy merasa pria tersebut tidak peka dengan apa yang tengah dialaminya. Pria itu selalu saja bertanya kepadanya soal alasan di balik keinginan membaca Al-Quran.
Pria tersebut lantas meminta Jeremy agar tidak meletakkan Al-Quran di atas lantai atau kursi. Dilarang pula, menduduki atau menginjak Al-Quran. Larangan lain, jangan membaca Al-Quran di lokasi tidak suci, seperti kamar mandi.
Pria itu juga segera memberi syarat tambahan, yakni selepas membaca Al-Quran diharapkan agar ditaruh kembali di atas rak. Serta tidak membiarkan Al-Quran terbuka dalam kondisi terbalik. “Kenapa begitu?” tanya Jeremy.
Pria itu menjelaskan, Al-Quran berisi firman yang Mahakuasa, jadi seharusnya menghadap ke atas bukan ke bawah. Selepas dibaca, sebaiknya halaman terakhir jangan pula dilipat melainkan diberikan pembatas. Jeremy pun menerima syarat yang diajukan.
Setelah berkutat dengan pria itu, Jeremy mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan membacanya. Sayang, masa adaptasi segera berakhir. Disamping itu, di Arab Saudi, Kamis dan Jumat adalah hari libur.
Tapi itu tidak masalah buatnya. Sepekan berikutnya, ia kembali meminjam Al-Quran dan membacanya. Entah mengapa, Jeremy merasa membaca intisari Injil dan Taurat. Padahal bukan kedua kitab itu yang ia baca.
“Hal yang menarik dalam Al-Quran, tidak ada sebutan “Nabi Berkata” atau “Kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Jadi, saya merasa seperti membaca apa yang disampaikan Tuhan kepadaku,” ucapnya.
Segera saja Jeremy menangis. Hatinya merasa pilu, sakit dan takut. Ia melihat dirinya, keluarganya, dan teman-temannya mencerminkan sikap orang kafir, munafik dan musyrik. “Saya baca Surah Al-Baqarah (2), Ali-Imran (3), An-Nisa (4), Al-Ma’idah (5) dan Al-An’am (6), tiba di bagian akhir, saya melihat isinya padat dan ringkas,” tuturnya.
Tiba-tiba, pada satu surah, yakni Al-Ikhlas yang berbunyi, “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Jeremy sangat terkejut.
Namun, ia mempertanyakan apakah memang benar, umat Islam benar-benar percaya Tuhan itu Esa. Jika benar, berarti ia telah mengabaikan masalah ini. “Saya terus bertanya-tanya. Saya harus mengkonfirmasi masalah ini dengan temanku yang Muslim,” ujarnya.
Lalu, Jeremy pun berdialog dengan temannya yang bernama Ismail Rostron—mualaf kulit putih—dan Jamal, Muslim asal Pakistan.
Jeremy tak berhenti takjub dengan apa yang ia alami. Namun, dalam hatinya ia sudah mantap memeluk Islam.
Akan tetapi, ada tiga hal penting yang harus diselesaikan. “Istri saya tentu harus menerima agama ini, lalu ia setuju meninggalkan pekerjaannya dan tinggal bersama saya di Saudi,” kata Jeremy.
Dengan kata lain, Jeremy sebenarnya sudah mantap dengan apa yang ia simpulkan. Hanya saja, ia tidak mau meninggalkan masalah apa pun. Mulailah ia mengajak bicara istrinya. Ia berusaha menjelaskan semuanya tanpa berlebihan.
Anabela terkejut bukan kepalang ketika mengetahui apa yang telah diputuskan suaminya. “Sepertinya kau telah berpindah agama,” kata Anabela dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada Jeremy.
Dalam surat balasannya, Jeremy mengaku telah memutuskan untuk memeluk Islam. Anabela sempat kesal lantaran Jeremy tidak berkonsultasi dengannya. Namun, Jeremy meyakinkan sang istri bahwa dirinya belum menjadi Muslim.
“Tapi hati saya telah mejadi Muslim,” ungkap Jeremy. “Saya sempat merasa ragu dengan hal ini, tapi masalah itu sempat lenyap sementara saat Natal tiba.”
Berpaling sejenak dari persoalan dengan istrinya, Jeremy tergerak untuk melihat bagaimana seorang Muslim melaksanakan shalat. Saat itu, ia tengah berjalan-jalan di pusat kota. Spontan saja, ia membeli pakaian tradisional Timur Tengah. Ia kenakan baju itu, lalu ia mengikuti ummat Muslim yang berjalan mengikut asal suara adzan.
Sepanjang jalan, Jeremy sedikit gelisah. Ia berhenti sejenak. Rupanya, shalat sudah dimulai. Ia lihat seluruh orang mengangkat tangannya lalu melipatnya di atas dada mereka. Berada pada barisan belakang, Jeremy langsung saja memasuki shaf yang masih kosong. Ia tiru setiap gerakan shalat.
Selesai shalat, Jeremy dihampiri dua anak-anak. Mereka menyapa Jeremy, “Anda Muslim?”
Mendengar sapaan anak-anak itu, Jeremy gelisah. Tapi dengan tenang ia balas sapaan itu. Tanpa diduga, anak-anak itu memberitahunya bagaimana gerakan shalat yang benar. Mereka mengarahkan bagaimana seharusnya ia bersujud dan rukuk. “Anak-anak itu segera menarik tanganku, entah saya mau dibawa kemana,” kenang Jeremy.
Tak lama, ia sampai di sebuah rumah. Di dalamnya, terdapat remaja berusia 15-16 tahun. Ia lalu menyapa Jeremy. Lantaran tidak mengerti apa yang diucapkannya, Jeremy hanya mengangguk. Remaja itu beranjak dari tempat duduknya, lalu memasuki ruangan lain. Lima menit kemudian, ia sajikan secangkir kecil kopi Arab. Jeremy dan remaja itu lalu terlibat perbincangan.
Remaja itu hanya bisa membalas pertanyaan Jeremy dengan bahasa isyarat. Dari isyarat itu, Jeremy mengartikan bahwa ia harus menunggu. Tak lama berselang, datang seorang pria dewasa. Dia tampak terkejut ketika melihat saudaranya bersama Jeremy.
“Amerika?” tanya Pria itu.
“Tidak, Saya Inggris,” jawab Jeremy.
“Selamat datang,” sapa pria itu. Lalu pria itu mengucapkan “Tawadha!”, yang artinya ambil wudhu. Ia ingin Jeremy bersiap-siap menuju masjid guna melaksanakan shalat Isya. Seperti sebelumnya, Jeremy meniru setiap gerakannya.
Kian mantap Jeremy memeluk Islam. Ia datangi kantor Perkembangan Dakwah Islam. Kepada mereka, Jeremy mencari informasi resmi terkait perpindahan agama.
Beberapa langkah memasuki kantor itu, Jeremy begitu terkejut ketika begitu banyak warga Eropa. Duduk sejenak, ia disapa pria India bernama Syekh Farooq. “Ada yang biasa saya bantu?” tanya si syekh.
Mendengar suara Farooq yang lembut, Jeremy begitu lega. Sebab, ia merasa gelisah sedari awal sebelum memasuki gedung. Namun, ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Oleh Farooq, ia diminta mengikuti sejumlah pelatihan sebelum menjadi Muslim.
Saat itu, tak hanya Jeremy saja yang mendatangi kantor tersebut. Ada dua orang lain. Yang pertama berasal dari Filipina, namanya Daud. Ia seorang Kristen yang bekerja di apartemen tempat Jeremy tinggal. Yang kedua, John. Ia menjadi Muslim karena istrinya seorang Muslim. Keduanya merupakan teman dekat Jeremy.
Ketiganya akhirya dimasukkan dalam program yang sama. Mereka dibimbing oleh dua orang Muslim yang bernama Syekh Ehad atau Abu Abdurrahman dan Syekh Farooq. Keduanya menjelaskan Islam dengan rinci dan sederhana. “Mereka mengatakan Islam adalah agama monoteisme. Menjadi Muslim merupakan langkah besar dalam hidup kalian,” kata Jeremy menirukan dua pembimbingnya.
Dari setiap penjelasan yang diberikan, kata Jeremy, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni setiap Muslim di mata Allah itu sama, yang membedakan adalah kualitas iman dan takwa.
Selain itu, setiap Muslim mungkin saja masuk neraka apabila melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Pertanyaannya, manusia tidak pernah tahu kapan waktu kematiannya. “Saya langsung terdiam. Menurut pembimbing, karena itulah setiap Muslim harus berbuat baik,” kata Jeremy.
Tak lama kemudian terucaplah kalimat syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu ana Muhammad nabiyyan wa rasulullah.” Jeremy resmi menjadi Muslim. Selanjutnya, salah seorang pembimbing meminta Jeremy mengganti nama.
“Nama apa yang anda inginkan. Sekarang anda telah menjadi Muslim. Anda seperti bayi yang baru lahir,” kata Jeremy menirukan ucapan pembimbingnya. Jeremy sempat bingung. Sebab, ia tidak pernah berpikir mengganti namanya.
Sore hari, tepatnya pukul empat sore, ia bersama pembimbing lainnya, Yusuf, belajar cara berwudhu. Ia tunjukkan kepada Jeremy bagaimana berwudhu yang baik. Ia memastikan tidak ada kesalahan urutan dan gerakan. “Ketika anda shalat, anda harus bebas dari lapar atau haus atau keinginan buang air kecil,” pesan Yusuf kepada Jeremy.
Namun, Jeremy spontan saja membersihkan diri. Ia ingin melaksanakan shalat Mahgrib dengan kondisi tubuh bersih. Ia mengingat apa yang dilakukan seperti proses pembaptisan Yohanes.
“Sebenarnya jauh berbeda. Dalam Islam ada urutan yang harus dipenuhi. Pertama yang dilakukan membersihkan bagian pribadi. Lalu lakukan wudhu. Selanjutnya, basuh tubuh dengan air dimulai dari kanan, selanjutnya kepala,” tuturnya.
Selesai mandi dan berwudhu, pembimbingnya kembali memanggil. Ia memberitahu Jeremy untuk melaksanakan shalat yang pertama kali, sebenarnya yang kedua bagi Jeremy. Ia menghadap kiblat, lalu kedua tangan ke atas lalu melipatnya di dada. Lalu membungkukkan badan, sujud dan duduk di antara dua kaki. “Saya merasakan kualitas spiritual yang luar biasa. Alhamdulillah,” ucap Jeremy penuh syukur.
sumber :klik
Label:
muallaf
08.49
Polosin Ali Vyacheslav: Atheis yang Menemukan Kebenaran Islam
Written By Pelatihan blog on Selasa, 14 Agustus 2012 | 08.49
kisahmuallaf.com – Nama aslinya Polosin Vyacheslav Sergeyevich. Ia dibesarkan di tengah keluarga ateis. Meski hidup tanpa agama, sejak kecil Vyacheslav memercayai keberadaan Tuhan yang misterius serta Mahakuasa.
“Aku percaya ia takkan menolak orang-orang yang datang dan berpaling kepada-Nya,” tulis dia dalam catatan perjalanannya menemukan Islam, How I Came to Islam.
Keyakinan itu terus berkembang dan menguat menyusul beberapa situasi sulit yang dialaminya. Sejak usia remaja, ketika ia merasa tak memiliki cukup kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan rumit, Vyacheslav selalu berusaha kembali kepada Tuhan yang diyakininya itu. “Aku memohon pertolongan dari-Nya dan situasi membaik setelah itu.”
Tak berhenti pada sebatas meyakini keberadaan Tuhan, ia pun ingin menemukan kebenaran sesungguhnya tentang Zat Yang Mahakuasa itu. Maka, ia mengajukan lamaran untuk belajar di Fakultas Filsafat Universitas Negeri Moskow dan ia diterima.
Di sanalah, Vyacheslav membuka Injil untuk pertama kalinya dan mendapati kesan yang bertentangan dengan dirinya. Ia menemukan beberapa bagian dari Injil tampak benar-benar supranatural, sementara di bagian lainnya Tuhan dikemukakan untuk menghancurkan sebagian besar bangsa.
“Ada pula gagasan-gagasan aneh (dalam Injil) seperti ‘otot’, ‘tangan’, ‘tubuh’, ‘daging’, dan ‘darah’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada banyak asimilasi Sang Pencipta (Tuhan) dengan ciptaan-Nya, yakni manusia,” ujarnya.
Kala itu tahun 1970-an. Meski dihadapkan pada sesuatu yang dinilainya bertentangan, Vyacheslav melihat dirinya tak memiliki alternatif di tengah ideologi komunis negaranya, kecuali Gereja Ortodoks Rusia. Ia pun mendatangi sebuah Gereja Ortodoks pada usianya yang ke-19. “Di sana aku menemukan sebuah tradisi kuno serta keindahan nyanyian pujian yang memuja Tuhan. Lalu, kuputuskan mencari lebih banyak pengetahuan teologis dengan mengikuti sebuah seminari.”
Sampai pada keputusan itu, Vyacheslav merasa hal itu tak berarti bahwa ia telah menetapkan pilihan atas kepercayaan tertentu. “Karena, aku tidak memiliki kepercayaan lain apa pun untuk kubandingkan dengan Ortodoksi.”
Setelah mempelajari banyak dalil tentang ajaran Kristen melalui seminari, pria kelahiran 26 Juni 1956 ini kemudian menjadi imam keuskupan pada 1983. Posisi itu dimaknainya sebagai simbol peperangan rohani dan intelektual melawan kefasikan. “Aku merasa diriku menjadi prajurit Tuhan.”
Namun, perasaan itu tak berlangsung lama. Di tengah kesibukannya melayani umat di gereja, Vyacheslav merasa dipaksa mengabdikan diri untuk melakukan berbagai ritual di bawah perintah orang-orang yang disebutnya penuh takhayul. Aktivitasnya di gereja juga ia rasakan bukan untuk mengabdi di bidang spiritual dan keyakinan intelektual seperti perkiraannya. Kecewa, ia pun memutuskan tak lagi menjadi tentara Tuhan.
Pada 1991, Vyacheslav secara resmi meninggalkan pelayanan imamah. Namun, ia tak sekaligus meninggalkan agama yang telah menjadikannya seorang pendeta itu. Ia tetap menjadi pendeta dan melanjutkan pencariannya pada sebuah penjelasan teologis atas berbagai agama ritualistik.
Ia mulai mempelajari sumber-sumber kuno Kristen tentang sejarah gereja, sejarah pelayanan gereja, dan sejarah teologi. Penelusuran mendalam yang ia lakukan membawanya pada keraguan yang serius tentang kebenaran seluruh konsep teologis Roma-Bizantium. “Aku menemukan konsep teologi itu didasarkan atas misteri-misteri kafir pada masa lampau,” kata pria yang memperoleh gelar MA bidang ilmu politik dari Akademi Diplomatik Kemenlu Rusia itu.
Upaya pencariannya tak sia-sia. Pada 1995, Vyacheslav menyadari semua keraguannya, dan sejak itu ia mengundurkan diri dari seluruh keikutsertaannya dalam pelayanan gereja. Namun, tambahnya, keimanan antropis terhadap Yesus Kristus yang diperolehnya dari seminari kala itu masih menahannya dari pemahaman pada prinsip sederhana monoteisme. “Saat itu aku belum menyadari ajaran Islam, karena bagiku terjemahan Al-Quran oleh Krachkovskiy (akademisi yang menerjemahkan Al-Quran ke bahasa Rusia) mendistorsi arti dari ‘wahyu Ilahi’,” katanya.
Sematkan nama Ali
Namun akhirnya, semua keraguan yang membayangi Vyacheslav tentang Islam sirna saat ia menemukan penjelasan di Alquran dan ajaran Islam tentang Yesus (Nabi Isa ‘Alaihissalam). Ia menilai, penjelasan Al-Quran tentang Yesus sangat rasional. “Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pemurah memperkuat keyakinanku. Lalu, aku dan istriku memutuskan untuk mengumumkan bahwa kami memeluk Islam dan berdakwah tentang monoteisme,” ujarnya.
Vyacheslav berislam pada 1999 dan menyematkan nama “Ali” di depan nama tengahnya. Keislamannya sempat menjadi kontroversi kala itu dan dinilai bersifat politis terkait keanggotaannya di parlemen Rusia. Setelah masuk Islam, Polosin terpilih sebagai salah satu ketua Refakh, sebuah gerakan sosial dan politik komunitas Muslim di Rusia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi sebuah surat kabar Muslim yang diterbitkan pada 1999.
Vyacheslav kini menjadi tokoh Islam sekaligus pakar dialog lintas agama di Rusia serta menjadi direktur Al Wasatiya Center, sebuah organisasi internasional yang berupaya membantu menyelesaikan persoalan-persoalan berbasis perbedaan agama. Beberapa buku dan artikel yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Di antaranya, Secular State and Islamic Tradition in Russia, Criminal Sectarianism Will Never Become the Norm of Life, dan Rothschilds against Arab Rulers-Causes and Mechanism of Arab Revolutions.
sumber :klik
Label:
muallaf
18.46
Murad Wilfried Hoffman: Kisah Islamnya Mantan Direktur NATO
Written By Pelatihan blog on Senin, 13 Agustus 2012 | 18.46
kisahmuallaf.com – Islam adalah agama yang rasional dan universal. Ia bisa diterima dan sesuai dengan akal sehat. Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebab, kendati diturunkan di Jazirah Arabia, agama Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi juga bisa diterima oleh orang yang bukan Arab (Ajam).
Bahkan, ilmu-ilmu dan ajaran yang terkandung dalam Al-Quran, sesuai dengan pandangan hidup umat manusia. Karena itu, tak heran, bila agama yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini, dengan mudah diterima oleh orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya. Itulah yang dialami Dr. Murad Wilfried Hoffman, mantan Diplomat Jerman. Ia menerima agama Islam, disaat kariernya berada di puncak.
Dr Hoffman, menerima Islam pada 25 September 1980. Ia mengucapkan syahadat di Islamic Center Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dan yurisprodensi dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.
Selain itu, Hoffman dulunya adalah seorang asisten peneliti pada Reform of federal Civil Procedure. Dan pada tahun 1960, ia menerima gelar LLM dari Harvard Law School. Kemudian, pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels. Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Tahun 1982 ia berumrah, dan 10 tahun (1992) kemudian melaksaakan haji.
Namun, justru sebelum di Aljazair dan Maroko inilah, Hoffman memeluk Islam. Dan ia baru mempublikasikan keislamannya setelah dirinya menulis sebuah buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992. Setelah terbit bukunya ini, maka gemparlah Jerman.
Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah kropos dan kehilangan justifikasinya, namun secara eksplisit Hoffman mengatakan, bahwa agama Islam adalah agama alternatif bagi masyarakat Barat.
”Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Karena memang hanya Islam-lah satu-satunya alternatif itu,” tulisnya.
Karena itu, tidak mengherankan saat buku itu belum terbit saja telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya adalah wawancara televisi saluran I dengan Murad Hoffman. Dan dalam wawancara tersebut, Hoffman bercerita tentang bukunya yang sebentar lagi akan terbit.
Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan serentak mereka mencerca dan menggugat Hoffman, hingga mereka membaca buku tersebut.
Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel. Malah pada kesempatan yang lain, televisi Jerman men-shooting Murad Hoffman saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: “Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?”
Hoffman tersenyum mendengar komentar sang reporter. ”Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih.” Artinya, Ia paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segela sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Dan baginya Islam adalah agama yang rasional dan maju.
Sebagai seorang diplomat, pemikiran Hoffman terkenal sangat brilian. Karena itu pula, ia menambah nama depannya dengan Murad, yang berarti yang dicari. Leopold Weist, seorang Muslim Austria yang kemudian berganti nama menjadi Muhamad Asad, mengatakan, dalam pengertian luas, Murad adalah tujuan, yang tujuan tertinggi Wilfried Hoffman.
Keislaman Hoffman dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Apalagi, ketika ia bertugas menjadi Atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair, ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hoffman memutuskan untuk memeluk Islam.
Ia merasa terbebani dengan pemikiran manusia yang harus menerima dosa asal (turunan/warisan) dan adanya Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengapa Tuhan harus memiliki anak dan kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib untuk menyelamatkan diri sendiri. ”Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa,” tegasnya.
Bahkan, sewaktu masa dalam masa pencarian Tuhan, Hoffman pernah memikirkan tentang keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.
Ia kemudian bertanya; ”Bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkomunikasi dengan manusia dan membimbingnya?” Disini ia menemukan adanya wahyu yang difirmankan Tuhan. Dan ketika membandingkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang umatnya diberi wahyu, Hoffman menemukannya dalam Islam, yang secara tegas menolak adanya dosa warisan.
Ketika manusia berdoa, mereka harusnya tidak berdoa atau meminta kepada tuhan lain selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sang Pencipta.
”Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tegasnya.
Karena itulah, saya melihat bahwa agama Islam adalah agama yang murni dan bersih dari kesyirikan atau adanya persekutuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluknya. ”Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak beranak dan tidak diperanakkan,” ujarnya.
Dalam bukunya Der Islam Als Alternative, Annie Marie Schimmel memberikan kata pengantar dengan mengutip kata-kata Goethe. ”Jika Islam berarti ketundukan denga penuh ketulusan, maka atas dasar Islam-lah selayaknya kita hidup dan mati.”
Dalam bukunya Trend Islam 2000, Hoffman menyebutkan, potensi masa depan peradaban Islam. Ia menjelaskan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.
Hoffman juga banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia senantiasa menyampaikan pemikiran-pemikiran briliannya untuk kemajuan Islam. Pada pertengahan September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syekh Dr Yusuf al-Qaradhawi.
Beberapa Alasan Hoffman Memilih Islam
Ada beberapa alasan yang membuat Murad Wilfried Hoffman akhirnya keluar dari Katholik dan memilih Islam. Dan alasan-lasan itu sangat membekas dalam pikirannya.
Tahun 1961, ketika ia bertugas sebagai Atase di Kedutaan Besar Jerman, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah perang gerilya berdarah antara tentara Prancis dan Front Nasional Aljazair yang telah berjuang untuk kemerdekaan Aljazair, selama delapan tahun. Disana ia menyaksikan kekejaman dan pembantaian yang dialami penduduk Aljazair. Setiap hari, banyak penduduk Aljazair tewas.
”Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi akan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka,” ujarnya.
Alasan lain yang membuatnya memilih Islam, Hoffman adalah seorang penyuka seni dan keindahan. ”Seni punya beragam kesenian yang sangat menarik dan indah, termasuk seni arsitekturnya. Hampir semua ruangan dimanifestasikan dalam seni keindahan Islam yang universal. Mulai dari kaligrafi, pola karpet, ruang bangunan dan arsitektur masjid, menunjukkan kuatnya seni Islam,” jelasnya.
Dari beberapa alasan diatas, persoalan yang benar-benar membuatnya harus memeluk Islam, karena hanya agama ini yang tidak mengajarkan doktrin tentang dosa warisan.
Pernyataan yang terdapat dalam Al-Quran sangat jelas, rasional dan tegas. ”Tak ada keraguan bagi saya akan kebenaran Islam dan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu’AlaihiWasallam,” paparnya.
sumber :klik
Label:
muallaf
17.37
Maria Luisa: Tuhan Berbicara Padaku Melalui Al-Quran
Written By Pelatihan blog on Minggu, 12 Agustus 2012 | 17.37
kisahmuallaf.com – Maria Luisa tumbuh dan besar dalam lingkungan Katolik Roma yang taat. Ibunya seorang biarawati sebelum akhirnya meninggalkan gereja, dan fokus mengasuh anak-anaknya.
Di usia tujuh tahun, Maria telah berbaiat untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Tekad mengabdi pada gereja membuatnya dianugerahi “Katekis of The Year Award”, ketika ia lulus SMA. Katekismus adalah buku penjelasan atau instruksi resmi mengenai iman dan ajaran Gereja Katolik Roma. Setelah itu, perjalanan spiritual Maria terus meningkat.
Selesai sekolah, ia ambil bagian dalam sebuah yayasan kemanusiaan yang bertujuan menyatukan Filipina dalam doa tanpa memandang agama. Yayasan ini menguatkan keyakinannya bahwa semua manusia terlepas dari latar belakangnya berasal dari Tuhan.
“Aku mulai melaksanakan devosi, aku percaya santo bukanlah dewa kecil namun serupa denganku. Di sisi lain, aku mempertanyakan posisiku, mengapa harus melalui dia tidak langsung kepada Tuhan,” ujarnya.
Kedekatan Maria kepada Tuhan diuji ketika ibunya didiagnosi leukimia stadium akhir. Periode itu tidak membuat Maria menjauh, sebaliknya ia tak ragu untuk terus berdoa kepada Tuhan agar ibunya diberikan kesembuhan.
Namun, teman-teman parokinya justru memintanya agar menyerahkan nasib ibunya kepada Tuhan. “Aku akhirnya menyerah,” kata dia.
Kematian ibunya merupakan titik terpenting dalam hidupnya. Sejak itu, Maria menjadi pelayan Tuhan. Ia sadar seberapa keras ia berjuang, pada akhirnya Tuhan-lah yang memutuskan.
Setelah ibunya meninggal, Maria mendapat tawaran pekerjaan di Qatar. Saat itu, Maria merasa belum siap untuk bekerja di luar Filipina. Ia tolak pekerjaan itu.
Tahun 2006, ia kembali mendapat tawaran pekerjaan di Qatar. Kali ini, ia berpikir untuk mengambil pekerjaan itu. Selama proses wawancara, ia merasa memang pekerjaan itu untuk dirinya.
Dalam waktu sebulan, setelah proses wawancara, ia akhirnya berangkat ke Qatar. Sepanjang perjalanan, ia merasa akan mendapatkan kehidupan lebih baik. “Ternyata, aku mendapat lebih dari apa yang kubayangkan,” tuturnya.
Selama di luar negeri, Maria selalu teringat dengan perkataan ibunya tentang Tuhan. Sewaktu kecil, Maria pernah bertanya kepada ibunya soal hakikat penciptaan alam raya.
Ia habiskan waktu untuk berpikir tentang bagaimana proses penciptaan, dan di mana posisi Tuhan saat itu. “Ibuku berkata, Tuhan itu Mahabesar dan tidak terbatas. Ia memang berada di luar logika, tapi percayalah, ia ada di mana-mana,” kenang Maria menirukan ucapan ibunya.
Perkataan ibunya itu menarik perhatiannya. Pada dasarnya, manusia dilahirkan untuk mengetahui, mencintai dan melayani. Maria berkeyakinan semua orang akan mengalami masa-masa itu. “Alhamdulillah, menjadi Muslimah adalah hasil akhir dari pencarianku,” ucapnya.
Hidayah telah membawa Maria menuju Qatar. Pada tahun 2009, perusahaan tempat ia bekerja mulai mengalami kesulitan keuangan. Perusahan itu akhirnya memberhentikan dirinya.
Beruntung, tidak butuh waktu lama bagi dirinya mendapatkan pekerjaan lain. “Aku diterima bekerja di lembaga Islam. Aku tidak bekerja bersama orang Islam, tapi aku tidak memikirkan hal itu,” kata dia.
Awal 2010, ia bertemu dan menjalin kasih dengan Muslim Filipina. Namun, tidak pernah terjadi dialog soal agama. Ia tahu betul soal Katolik. Sebab, ada keluarganya yang beragama Kristen. Pria itu meyakinkan Maria agar tidak perlu merasa tidak nyaman.
Dalam satu kesempatan, Maria pergi bersama bosnya ke Fanaar, Islamic Center Qatar. Ketika datang, ia mendapat salinan tentang Muslimah ideal. Maria mulai membacanya selama tiga bulan, saat kekasihnya tidak berada di Qatar.
Begitu membacanya, Maria merasa ayat-ayat Al-Quran memperlihatkan Tuhan seolah berbicara secara langsung kepada umatnya.
Selesai membaca, Maria mendapat salinan Al-Quran dalam bahasa Tagalog. Seketika, Maria merasa terharu dan meneteskan air mata.
“Dalam hatiku, aku ingin mencari bimbingan soal ini. Aku harus mengetahui apa yang dibutuhkan,” kata dia. Ia mulai mencari informasi lewat web dan membaca literatur yang ada.
Situasi itu tidak bertahan lama. Maria mulai merasakan dilema dan krisis akibat bertumpuknya masalah yang ia hadapi. Ia pun bingung bagaimana harus berdoa. Di satu sisi, apakah ia akan menjalani kebaktian, atau ia mendirikan shalat.
Sulit baginya menemukan jawaban yang tepat, sampat satu malam Maria bermimpi. “Ya Tuhan, bagaimana aku harus berdoa,” ujarnya.
Kekasihnya, akhirnya kembali dari Filipina. Tuhan memberikan waktu kepada Maria untuk menegaskan jawaban atas dilema yang dihadapi. Jawabannya jelas, hati dan pikirannya sudah seiring sejalan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Maria segera menuju Fanaar guna merealisasikan niatannya itu.
Sepanjang perjalanan muncul pertanyaan dalam dirinya. Apabila kekasihnya itu tidak bersama dirinya apakah ia masih bertahan dalam Islam, lalu ketika mati, bagaimana keluarganya memakamkan dirinya.
Pertanyaan lain, mengapa pria Muslim diperbolehkan menikah empat kali. “Aku berharap, kunjunganku ke Fanaar akan menjawab pertanyaan itu,” ungkapnya.
Tiba di Fanaar, ia ditemani oleh dua pembimbing; Zarah dan Maryam. Ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, air matanya mulai mengalir.
“Aku masih ingat, hari ketika aku mengucapkan dua kalimat syahadat, terjadi gempa tsunami di Jepang. Melihat kejadian itu, aku merasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membersihkan dosa-dosaku dengan menjadi Muslimah. Alhamdulillah,” pungkas dia.
sumber : klik
Label:
muallaf









